Menuntut Ilmu

Seandainya tanpa ilmu, maka manusia itu ibarat binatang

Lebih Dekat Dengan Qur'an

Tidaklah sekelompok orang berkumpul untuk mempelajari al-Quran, melainkan akan turun kepada mereka berkah dari Allah.

Jangan Lupa Qiyamul Lail

Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.

Sholat berjamaah

mari semangat sholat lima waktu di masjid.

Halaqoh Quran

Hidup Makmur, Mulia dan Bahagia bersama Al Quran.

Selasa, 04 Agustus 2009

Abu Bakar Ash Shidiq r.a


Dia adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fahr Al Kannani Al‘Adnani.

Beliau biasa dipanggil dengan nama Abu Bakar. Sedangkan bapaknya biasa dipanggil dengan nama Abu Quhafah dan ibunya biasa dipanggil dengan nama Salma binti Shakhr bin Amir. Beliau digelari dengan “Ashshiddiq dan “Al ‘Atiiq.” Gelar “Al’Atiiq” ini dilekatkan kepadanya karena ketampanan wajahnya dan tidak akan tersentuh api neraka. Sedangkan gelar “Ash-Shiddiq” disandangnya dikarenakan banyak melakukan kebenaran dan merupakan orang yang pertama kali yang meyakini kebenaran Rasulullah dan ajaran Allah yang dibawa oleh beliau.
Pada masa jahiliyah beliau membenci minuman khomr, beliau tergolong orang kaya yang dengan kekayaannya banyak membantu orang – orang miskin, dekat dengan kaum quraisy dicintai dikalangan mereka.

Perjalanan Hidupnya
Jika pengungkapan sejarah perjalanan hidup ini dimaksudkan untuk menceritakan sesuatu yang dianggap berlawanan dengan sesuatu yang tercela, dimana pelakunya tidak berhak menyombongkannya, maka sejarah perjalanan hidup yang dialami oleh Abu Bakar ash-Shiddiq ini cukup panjang dan beragam, karena itulah maka kami hanya akan mengungkapkan sebagian kecil dari sejarah perjalanan hidupnya. Adapun sebagian perjalanan hidup yang dialami oleh beliau adalah sebagai berikut:
1. Mengislamkan seluruh anggota keluarganya, dimana tidak ada seorang sahabatpun dari sahabat-sahabat Rasulullah yang mampu melakukannya. Abu Bakar masuk Islam terlebih dahulu, lalu mengislamkan bapaknya dan ibunya, lalu mengislamkan semua anak-anak lakinya, yaitu, Abdullah, Abdurrahman, Muhammad dan anak-anak perempuannya, yaitu, Asma’dzatu An-Nithaqaini (pemilik dua kepang), Aisyah Ummul mukminin dan Ummi Habibah, lalu beliau mengislamkan seluruh isteri-isterinya, yaitu: Ummi Ruman ibu kandungnya Abdurrahman dan Aisyah, Asma’ binti Umais ibu kandung Muhammad, dan Habibah binti Khadijah ibu kandungnya Ummi Kultsum. Semoga rahmat Allah senantiasa tercurah kepada mereka.
2. Al Bukhari telah meriwayatkan bahwa Nabi telah bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling aku percayai dalam segi kesahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar, dan seandainya aku diperintahkan untuk mengambil kekasih selain Tuhanku niscaya aku akan memilih Abu Bakar, bahkan persaudaraan dan kasih sayangnya dalam Islam, sehingga tidak ada pintu kasih sayang yang tersisa dalam masjid selain pintu Abu Bakar .”
3. Abu Bakar turut serta dalam seluruh peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah, sehingga tidak ada satu peperangan pun yang dilakukan oleh Rasulullah yang tidak diikutinya. Beliau turut serta dalam perang Badar, Uhud, Khandak, Khaibar, Futhu Makkah (pembebasan kota Makkah Hunain, Tabuk dan peperangan lainnya baik yang besar maupun yang kecil, dimana tidak ada seorang sahabat pun yang mengikuti seluruh peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah selengkap yang diikuti oleh Abu Bakar. Dalam peristiwa perang Uhud beliau tetap bertahan bersama Rasulullah di medan perang, dan pada waktu perang Tabuk Rasulullah menyerahkan bendera yang besar. Selain itu beliau menemani Rasulullah dalam melakukan hijrah dan memasuki gua Tsur. Sebagaimana hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya, “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Qs. At-Taubah: 40)

Keutamaannya
Jika yang dimaksud dengan keutamaan disini adalah kebalikan dari kehinaan, maka keutamaan yang dimiliki oleh Abu Bakar ini sangat banyak, tetapi kami hanya akan mengemukakan sebagiannya saja. Adapun keutamaan yang dimiliki oleh Abu Bakar itu antara lain adalah:
1. Beliau belum pernah minum-minuman yang memabukkan baik pada masa Jahiliyah maupun pada masa Islam.
2. Beliau khalifah yang pertama kali mengumpulkan tulisan Al Qur’an.
3. Beliau termasuk sahabat Rasulullah yang pertama beriman, mengerjakan shalat dan menjadi khalifah.
4. Beliau termasuk orang yang paling utama dari kalangan umat ini setelah Nabi Muhammad.
5. Beliau telah mengislamkan sebanyak 15 (lima belas) orang sahabat yang dijanjikan masuk surga, yaitu: Utsman bin Afan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awam, Sa’ad bin Abi Waqash dan Abdurrahman bin Auf.

Kesempurnaan jiwa dan akhlaknya
Di bawah ini akan kami kemukakan sebagian kesempurnaan yang dimiliki oleh Abu Bakar yang berkaitan dengan jiwa maupun perilakunya.

Tawadhu’ (Rendah hati)
Dalam mengungkap sifat tawadhu’ Abu Bakar cukup kiranya kami mengemukakan keterangan berikut yang kami anggap dapat mewakili dalam menjelaskan ketawadhuan beliau. Para ulama telah menceritakan bahwa Abu Bakar selalu memerah susu kambing penduduk desanya, sehingga ketika beliau dibaiat menjadi khalifah, maka salah seorang hamba sahaya berkata, “Sekarang, tidak akan ada lagi orang yang memerahkan kita susu kambing di daerah ini,” yang dimaksud adalah Abu Bakar. Beliau mendengar perkataan yang diucapkan oleh hamba sahaya itu, kemudian berkata kepadanya, “Tentu, aku akan tetap memerah susu kambing untuk kalian, dan aku berharap perilaku yang biasa aku lakukan sebelumnya tidak berubah karena menjadi khalifah.” Sehingga ketika beliau sudah menjadi khalifah beliau tetap memperhatikan dan menolong mereka seperti yang beliau lakukan sebelumnya.

Ketakwaannya
Tidak perlu diragukan lagi bahwa Abu Bakar ini merupakan salah seorang dari kalangan umat ini yang paling bertakwa, paling baik dan paling shaleh setelah Nabi Muhammad Sebagaimana firman Allah, “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling bertakwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (dijalan Allah) untuk membersihkannya.” (Qs. Al-Lail: 17-18). Mayoritas ahli tafsir berpendapat bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq beliaulah yang dimaksud dengan pengertian ayat tersebut. Namun demikian lafazhnya dapat diberlakukan kepada orang yang memiliki sifat sebagaimana yang disebutkan dalam ayat tersebut. Di antara bukti lain yang menunjukkan keagungan ketakwaan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagaimana yang diriwayatkan darinya, dimana beliau berkata, “Inilah riwayat-riwayat yang bersumber dariku:
Beliau telah meriwayatkan, seraya berkata, “Ingin rasanya aku menjadi sehelai rambut yang menempel pada badan seorang hamba yang beriman.” Beliaupun pernah mengatakan, “Ingin rasanya aku menjadi sebuah pohon yang dipetik buahnya lalu dimakan.”
Selain itu bukti terbesar yang menunjukkan ketakwaan Abu Bakar sebagaimana yang terungkap dalam kitab “Shahihaini” bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki seorang budak, dimana pada suatu hari budaknya itu datang kepada beliau sambil membawa makanan. Karena beliau merasa lapar, maka beliau memakannya sebelum menanyakan dari mana makanan itu. Setelah selesai, maka beliau bertanya kepada budaknya, seraya berkata, “Dari mana kamu mendapatkan makanan ini?” lalu dia menjawab, “Pada masa jahiliyah aku bertemu dengan suatu kaum, lalu aku memakaikan azimat (mantera) kepada mereka, dan mereka menjanjikan sesuatu kepadaku. Ketika aku bertemu dengan mereka, maka aku menagihnya dan mereka memberiku sesuatu.” Kemudian Abu Bakar berkata, “Ach, hampir saja dirimu mencelakakanku.” Selanjutnya beliau memasukkan tangannya ke dalam mulutnya supaya beliau dapat memuntahkannya, tetapi karena makanan itu tidak keluar semuanya, maka beliau minum air dan memuntahkannya sehingga semua makanan dapat dikeluarkan semuanya. Demikianlah ketakwaan yang ditunjukkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Pembahasan seputar ketakwaan Abu Bakar ini akan kami tutup dengan kesaksian Ali bin Abu Thalib dimana Abu Sarihah yakni Hudzaifah bin Usaid berkata, “Aku mendengar Ali berkata, “Ingatlah, sesungguhnya Abu Bakar itu orang yang bersih hatinya.”

Kredibilitas Keilmuannya
Tidak ada seorang ulama pun yang meragukan kredibilitas keilmuan Abu Bakar Ash-Shiddiq, sehingga dia digolongkan sebagai sahabat Rasulullah yang paling alim. Bagaimana tidak, sementara dia tidak pernah berpisah dari Rasulullah semenjak beliau diangkat oleh Allah sebagai rasul sampai Allah memanggil beliau ke haribaan-Nya (wafat). Di bawah ini akan kami kemukakan beberapa contoh yang menggambarkan sisi keilmuan Abu Bakar Ash-Shiddiq.
1. Para perawi telah meriwayatkan bahwa Abu Bakar-Ash-Shiddiq adalah orang yang pertama hafal Al Qur’an. Sebagai buktinya bahwa Rasulullah telah menunjuknya sebagai pengganti beliau dalam mengimami shalat, dan hal itu terjadi bukan hanya sekali. Dimana Rasulullah bersabda, “Orang yang harus mengimami (shalat) suatu kaum hendaknya orang yang paling fasih dalam membaca kitab Allah (Al Qur’an).”
2. Menjelang akhir hayatnya Rasulullah berpidato, seraya bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memberikan pilihan kepada seorang hamba antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya, lalu hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi-Nya.” Mendengar hal itu Abu Bakar Ash-Shiddiq menangis, sehingga kami merasa heran. Ketika ditanya, maka dia menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah telah mengabarkan tentang seorang hamba yang disuruh memilih, dimana hamba yang disuruh memilih itu tiada lain adalah Rasulullah. Bertitik tolak dari keterangan tersebut, maka jelaslah bahwa Abu Bakar merupakan orang yang paling pintar di antara kita.
3. Seseorang yang diminta fatwanya di hadapan Rasulullah menunjukkan bahwa orang tersebut dikatagorikan sebagai orang yang paling pintar dari kalangan umat ini setelah Rasulullah, dan Abu Bakar termasuk orang tersebut. Ibnu Umar ditanya tentang siapa saja orang yang diminta fatwanya di hadapan Rasulullah, maka dia menjawab, "Abu Bakar dan Umar, karena tidak ada orang yang lebih pintar selain keduanya.” Bukhari telah meriwayatkan sebuah hadits kepada kita yang di dalamnya menjelaskan fatwa Abu Bakar yang disampaikan di hadapan Rasulullah, dan beliau menetapkan dan membenarkannya. Bukhari berkata, “Telah diriwayatkan dari Abu Qatadah, dia berkata, “Pada waktu perang Hunain kami pergi bersama Rasulullah dan ketika kami sampai maka kami menyaksikan pasukan besar kaum muslimin, lalu aku melihat seseorang dari kalangan musyrikin yang mengalahkan seseorang dari kalangan kaum muslimin. Kemudian aku menghampirinya seraya aku berjalan berputar mengelilinginya sehingga aku berada tepat di belakangnya, lalu aku mengayunkan pedang ke arah urat lehernya. Kemudian dia merubah posisinya sehingga menghadap ke arahku, lalu dia menyerangku, tetapi aku mencium bau kematian dan akhirnya diapun mati tersungkur. Setelah itu aku pergi dan bertemu dengan Umar bin Khatab, seraya berkata, “Bagaimana keadaan orang-orang?” lalu dia menjawab, “Urusan Allah.” Kemudian orang-orang kembali berkumpul, sementara Nabi duduk, seraya bersabda, “Barang siapa yang berhasil membunuh dan dapat membuktikannya, maka baginya berhak mendapatkan harta rampasan.” Kemudian aku berdiri, seraya berkata, “Siapa yang akan bersaksi untukku?” lalu aku duduk kembali. Kemudian Nabi mengulangi sabdanya, “Barang siapa yang berhasil membunuh dan dapat membuktikannya, maka baginya berhak mendapatkan harta rampasan.” Kemudian aku berdiri, seraya berkata, “Siapa yang akan bersaksi untukku?” lalu aku duduk kembali. Kemudian Nabi mengulangi sabdanya yang sama untuk yang ketiga kalinya. Kemudian seseorang berkata, “Benar, Ya Rasulullah, dan harta rampasannya ada padaku.” Setelah itu dia menyerahkan harta rampasan itu kepadaku. Maka Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Demi Allah, tidak bisa begitu, karena tidak bisa seorang singa Allah mengukuhkan pengakuan seorang singa Allah lainnya, tetapi siapa saja yang berperang karena Allah dan Rasul-Nya, maka engkau berhak memberinya harta rampasan. Kemudian Rasulullah bersabda, “Kamu benar” Setelah itu beliau memberikan harta rampasan itu kepada Abu Qatadah.
Abu Qatadah berkata, “Kemudian Rasulullah menyerahkan sebuah perisai yang kemudian aku jual dan hasil penjualannya aku belikan sebuah kebun kurma yang terletak di perkampungan Bani Salmah sebagai harta yang pertama kali aku peroleh dari hasil peperangan dalam Islam.
4. Bukhari telah meriwayatkan dari Muhammad bin jabir bin Muth’im dari bapaknya, dia berkata, “Seorang wanita telah datang kepada Rasulullah, lalu beliau menyuruhnya untuk datang lagi kepada beliau pada kesempatan yang lain. Maka dia berkata, “Bagaimana menurut pendapatmu seandainya aku datang, dan aku tidak menemukanmu?” Ayah Jabir berkata, “Seakan-akan wanita itu akan mati.” Kemudian Rasulullah berkata, “Jika kamu tidak menemukan aku, maka datanglah kamu kepada Abu Bakar.” Hadits ini kalaupun menunjukkan sisi kekhilafahan, kemuliaan dan kejujuran Abu Bakar, tetapi tidak dipungkiri bahwa hadist tersebut juga menunjukkan sisi Keilmuan Abu Bakar. Rasulullah telah menyerahkan urusan yang berhubungan dengan dirinya kepada Abu Bakar dan menjadikannya sebagai wakil beliau dalam menjawab segala pertanyaan yang akan diajukan oleh wanita tadi, karena dia dianggap sangat dekat dari segi keilmuannya dengan beliau.
Pembahasan seputar keilmuan Abu Bakar Ash-Shiddiq ini akan kami tutup dengan kesaksian yang diberikan oleh Umar yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam pembahasan kisah kekhilafahan Abu Bakar. Pada waktu itu aku (Umar) mengetahui sebagian tanda kemarahan yang ditunjukkan olehnya (Abu bakar), tetapi beliau lebih sabar dariku dalam menyikapinya.
Kemudian Abu Bakar berkata, “Bersabarlah, dan jangan tergesa-gesa, karena aku merasa benci untuk memarahinya.” Demi Allah, beliau tidak pernah meninggalkan ucapan yang mengagumkanku dalam meluruskanku kecuali beliau mengatakannya secara spontanitas dan panjang lebar sehingga aku terdiam. Kemudian beliau berkata, “jika kamu diingatkan suatu kebaikan, maka kamulah pemiliknya (harus menerimanya).”
Pada waktu itu tidak pada seorang Arab pun yang mengetahui urusan ini kecuali kalangan Quraisy yang menjadi kelas menengah masyarakat Arab dari segi keturunannya, dan aku menyetujui bagi kalian salah satu di antara dua orang ini yang mana saja kamu inginkan.” Yakni Umar dan Abu Ubaidah bin Jarrah.
Kesabarannya
Sabar termasuk perilaku dan akhlak yang sangat dicintai oleh Allah, dan sabar merupakan salah satu sifat yang menunjukkan kesempurnaan seseorang. Allah telah menyifati dan menyanjung Nabi-Nya Ibrahim karena kesabarannya. Sebagaimana hal ini terungkap dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (Qs. At-Taubah: 114) Demikian juga Allah telah menyifati Ismail dengan sifat tersebut, sebagaimana tertera dalam firman-Nya, “Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (Qs. Ash-Shaffaat: 101). Abu Bakar termasuk orang yang memiliki watak penyabar, disamping dia juga sebagai orang yang kaya dengan ilmu pengetahuan. Kesabaran Abu Bakar nampak sekali pada hadits berikut: Bukari telah meriwayatkan hadits ini dalam bab “Beberapa keutamaan Abu Bakar dari Abu Darda, dia berkata, “Pada suatu hari aku duduk bersama Rasulullah, lalu Abu Bakar datang sambil mengangkat ujung baju (gamis)-nya sehingga terlihat kedua lututnya. Kemudian Rasulullah bersabda, “Temanmu itu sungguh sangat mulia (dermawan).” Setibanya di hadapan Rasulullah, seraya dia mengucapkan salam, lalu berkata, “Sesungguhnya antara aku dan Ibnu Khathab (Umar) telah terjadi sesuatu, dan aku cepat-cepat meminta maaf kepadanya dan menyesalinya, tetapi dia menolaknva dan tidak mau memaafkanku. Karena itulah maka aku datang menghadapmu, lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Bakar, sungguh Allah telah memaafkanmu” dan beliau mengucapkan sebanyak tiga kali. Setelah itu Umar merasa menyesal, kemudian dia datang ke rumah Abu Bakar, seraya berkata, “Apakah ada Abu Bakar?” mereka (keluarga Abu Bakar) menjawab, “Tidak ada.” Kemudian dia datang ke rumah Rasulullah, dan ketika itu muka beliau berubah karena marah sehingga Abu Bakar tertunduk, seraya keduanya menatap kedua lutut Umar. Kemudian Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, Demi Allah aku telah berbuat zhalim (aniaya)” lalu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepadamu, tetapi kalian mengatakan bahwa aku telah berdusta.” Selanjutnya beliau bersabda, “Abu Bakarlah yang waktu itu membenarkanku dan menolongku dengah jiwa dan hartanya, maka apakah kalian akan meninggalkan seorang yang telah menemaniku ?” Beliau mengucapkannya sebanyak dua kali.
Dari hadits tersebut di atas nampak sekali kesabaran Abu Bakar, dimana ada tiga point yang perlu digaris bawahi, yaitu:
1. Penyesalannya atas perbuatan yang dilakukannya.
2. Permintaan maafnya kepada Umar atas perbuatan yang telah dilakukannya.
3. Sumpahnya yang mengakui kezhaliman yang telah diperbuatnya.
Penyesalan adalah pengakuan atas kezhaliman (kesalahan) dengan cara meredam kemarahan dan meminta maaf dari orang yang dizhaliminya. Inilah sikap sabar yang diperlihatkan oleh Abu Bakar.

Keberaniannya
Keberanian ada dua, yaitu keberanian (keteguhan) hati dan akal pikiran. Yang dimaksud dengan keberanian akal pikiran adalah keberanian untuk menyatakan dan menjelaskan kebenaran dan menghadapi para penentangnya dengan menjelaskan kekeliruan dan kesalahan pendapat dan pikiran yang dikemukakan oleh mereka serta menyadarkan kembali akal pikiran mereka. Di bawah ini akan kami kemukakan dua hadits yang menjelaskan puncak keberanian akal pikiran yang diperlihatkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Adapun kedua hadits tersebut adalah sebagai berikut.
Ibnu ‘Asakir telah meriwayatkan dari Ali bahwa ketika Abu Bakar masuk Islam, maka beliau menyatakan keislamannya dan berdoa kepada Allah dan Rasul-Nya. Demikian juga telah diriwayatkan dari Aisyah, seraya dia berkata,” Ketika para sahabat Nabi dikumpulkan, dimana jumlah mereka mencapai 88 (delapan puluh delapan) orang, maka Abu Bakar mendesak Rasulullah untuk menampakkan dakwahnya secara terang-terangan. Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Bakar, kelompok kita ini masih kecil.” Akan tetapi Abu Bakar terus-menerus mendesaknya sehingga akhirnya Rasulullah menampakkan dakwahnya secara terang-terangan dan menyebarkan kaum muslimin untuk membangun masjid dimana setiap sepuluh orang dipimpin oleh satu orang. kemudian Abu Bakar berdiri dihadapan orang – orang seraya menyampaikan pidatonya, sehingga dialah orang yang pertama berpidato yang menyeru manusia kepada jalam Alloh dan Rosulnya.

Wafatnya
Abu Bakar wafat sekitar waktu magrib dan Isya, dan istri beliu yang bernama Asma binti Umais memandikannya.kemudian Umar mensholatinya dimana jenazah beliau diletakan antara kuburan dan mimbar Rosululloh.kemudian kedalam kuburannya turun putra beliau abdurrohman, Utsman dan Tholhah bin Ubaidilah.Beliau dimakamkan disamping makam Rosululloh, sesuai wasiatnya.Abu bakar wafat pada malam selasa bulan jumadil akhir th 13 H. pada usia 63 tahun. Semuga Alloh meridoinya dan beliupun ridho kepadaNya.
Referensi::
Abu bakar Al jazairi , Ilmu dan Ulama , pustaka azzam, cet 1/ 2001 hal 163
Al khulafa Ar Rosyidun, Adul wahab An Najar, dar Al fikr, hal 34
Syamsudin Muhammad Bin Ahmad Bin Utsman Ad Dzahabi, Siyarul A' Lam. Annubala, Dar Al Fikr, juz 2, cet 1/ 1997.
Dr. Muhammad Said Ramdhan Al Buty, Fiqhus Siroh, .Robbani Pres, Jakarta /1999
Sofiyur Rohman Al mubarok fury, Ar Rokhikul maktum, Dar Al fikr, cet 1/2003

Senin, 29 Juni 2009

Ahlu Kuburiyah


Bermula ketika berlalu masa diutusnya Nabi Adam yang penuh dengan ketauhidan, yang mana banyak dari orang-orang sholeh yang hidup dimasa beliau meninggal dunia sehingga tak tersisa melainkan

orang-orang yang masih jahil tentang ilmu agama (tauhid). Wal hasil banyak diantara mereka yang melakukan amalan atas dasar taqlid (ikut ikutan), oleh sebab itu mereka merasa sangat sedih tatkala orang yang mereka ikuti dan banggakan tersebut wafat. Dan akhirnya setanpun melancarkan misinya untuk membawa mereka, yang berakhir kepada kesyirikan.
Begitulah syirik menancap dalam jiwa manusia beberapa waktu lamanya (10 abad) setelah Wafatnya Adam. setelah itu Allah mengutus Nabi Nuh untuk mengajak manusia agar mau meninggalkan perbuatan istighatsah dan isti'anah dengan ahli kubur. Tetapi manusia tak mau menerima dakwah beliau, bahkan mereka tetap bersikeras melakukan hal tersebut.
Kemudian Nabi demi Nabi berdatangan, tetapi setan tetap berjuang keras untuk menyeret manusia ke jalan syirik kepada Allah. Pada masa Nabi Ibrahim, setan merayu manusia untuk menyembah bintang-bintang dan menyakini bahwa benda–benda tersebut merupakan wasithah antara sang khalik dan makhluknya. Kemudian datanglah putranya isma'il untuk melanjutkan penebaran millah Ibrahim, sehingga beliau banyak merekrut manusia untuk melakukan haji dan umrah waktu itu.
Akan tetapi setelah berlalunya masa beliau, sinar kenabian kian pudar, tauhid semakin tenggelam sehingga terbuka lebarlah pintu kegelapan dan kesesatan. Di sinilah muncul Amr Ibnu Luhay al Khuzai dengan membawa patung-patung, yang mana dia mengajarkan manusia bagaimana cara mengagungkan patung, wal akhir diapun merubah peradaban Makkah yang agamis (tauhidik) menjadi peradaban yang paganis.
Sampai ketika datangnya Rasulullah, manusiapun masih berada dalam kondisi kejahiliyahan. Maka dengan segera Rasulullah mendakwahkan apa yang turun (wahyu tentang bertauhid) kepada beliau yakni untuk memberantas kesyirikan yang telah merasuk dan menyebar dikalangan umatnya. Selama di Makkah (13 tahun) beliau mengajak umat manusia kepada Allah, setelah itu beliau hijrah dalam rangka mendakwahkan tauhid dan pada akhirnya tersebarlah tauhid ini di penjuru dunia sehingga semakin luaslah wilayah negeri islam.
Akan tetapi setan musuh yang nyata bagi manusia pun tak kenal lelah dalam mengejar dan menjerumuskan mereka. Sehingga ia menawarkan barang dagangannya yang sudah lama tidak laku (kesyirikan) kepada orang awwam yang telah melemah dan mengendor imannya serta telah kacau aqidahnya, karena banyaknya budaya-budaya yang masuk ketika meluasnya wilayah islam ini.
Yang Dengan melalui para musuh islam setan merasuk dan merusak umat, dan musuh islam melihat bahwa tak mungkin mencoreng islam dan menghabisi islam melainkan dengan menghidupkan sunnah orang Yahudi dan Nasrani (mengagungkan kuburan orang-orang sholeh). Wal hasil setanpun ikut sepakat dan akhirnya musuh (setan dan musuh islam) pun mampu merengkuh manusia untuk melaksanakan apa yang mereka ajarkan tersebut. Dan sampai saat inipun hal tersebut masih ada di sebagian tempat, bahkan berkembang pesat sesuai perkembangan zaman ini.

B. Fase Yang Dilewati Dalam Penyimpangan Ini
Misteri ini melalui banyak jenjang untuk merasuk dan melangsungkan hubungan gelapnya dengan manusia, bahkan di setiap periode dan masa sudah dipersiapkan (oleh setan)suntikan kesyirikan dan kesesatan,yang menyerupai narkotik sehingga bisa membuat orang kecanduan.
Mamduh Farhan al Buhairi menyebutkan fase yang dilalui manusia dalam melakukan hubungan gelapnya dengan kuburan antara lain :
1. Taqdis (mengkultuskan) orang yang dikubur dan menjadikannya suatu simbol yang diyakini memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Mereka juga menyakini bahwa mengagungkan pemilik kuburan merupakan jalan keselamatan, kebahagiaan, kesembuhan dan keberkahan, Na'udzubillah min dzalik. Sebagaimana yang diajarkan oleh setan.
2. Menyakini keberkahan kuburan.Sehingga banyak kita dapati dibeberapa tempat, orang berziarah dengan mengusap-usap kuburan dan menciumnya bahkan membawa pulang tanahnya untuk dijadikan azimat.
3. Menjadikan orang yang dikubur sebagai wasithah (perantara) antara dirinya dan Allah. Banyak diantara mereka yang menyakini bahwa para wali tersebut memiliki kedudukan disisi Allah sehingga banyak pula diantara mereka yang bertawassul kepada para wali dalam berdo'a.
4. Istighatsah dan memohon hajat. mereka menyakini bahwa para wali dalam kubur bisa memenuhi hajat dan mengeluarkan mereka dari kesulitan.na'udzubillah
5. Menjadikan kuburan sebagai berhala. Dengan mendirikan bangunan diatasnya dan menghiasinya. Sampai-sampai mereka thawaf, berziarah dan menyembelih untuknya.
6. Menjadikan kuburan sebagai mansak (tempat perayaan dan ritual). Mereka berkumpul pada waktu tertentu dengan membawa sesaji dalam rangka melaksanakan ritual mereka.
Inilah tahapan–tahapan yang dilalui oleh setan untuk menjerumuskan dan menyesatkan manusia. Dan mayoritas para kuburiyun saat sekarang telah melewati semua jenjang dan tahapan tersebut. Sehingga setan telah berhasil menipu mereka dan ia juga yakin bahwa mengagungkan kuburan adalah cara paling sukses untuk merenggut dan menyesatkan manusia.
C. Sebab-sebab tersebarnya fenomena ini
Pada hakekatnya setiap sesuatu yang muncul pastilah ada beberapa sebab akan kemunculannya, dan setiap penyakit yang ada pasti memiliki gejala-gejala serta sebab-sebab yang mungkin bagi kita untuk mengetahuinya. Sehingga kita bisa bersegera mencari obat untuk penyakit yang sedang kita derita.
Adapun penyebab munculnya penyakit yang sekarang banyak di derita oleh manusia, penyakit yang sangat berbahaya dan mengancam kehidupan mereka saat ini;Bahkan merupakan pangkal kerusakan bagi umat, yang berupa kuburiyah (pengagungan terhadap kuburan).
Mamduh Farhan al Buhairi memaparkan sebab dan gejala yang terpenting dalam fenomena ini yakni antara lain :
1. Bodoh dan jahilnya manusia terhadap ilmu dan hukum-hukum agama. sehingga mereka bertindak sekehendak hatinya tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi serta madharat yang akan menimpanya.
2. Berbaur dan banyaknya budaya-budaya yang ada. sehingga Banyak yang mengerjakan amalan atas dasar taqlid serta mengikuti kemayoritasan.
3. Fanatisme terhadap pendapat tokoh. Sehingga dia tidak mau menerima pendapat dari selain tokohnya tersebut serta menganggap diri mereka sendirilah yang benar.
4. Mengutamakan akal diatas wahyu. Sehingga mereka berbicara, berfatwa menurut akal dan pemahaman sendiri tanpa merujuk kepada khoirulqurun dalam memahami ayat ataupun hadits Nabi, wal hasil mereka sesat lagi menyesatkan.
5. Tasyabbuh (menyerupai)pada orang kafir. Dalam hal yang berkenaan dengan kehidupan mereka.
6. Adanya terjemahan buku-buku filsafat yang banyak mengandung pemikiran-pemikiran yang sesat dan menyesatkan. Antara lain ketika Ibnu Arabi berkata :
"Maka ia memujiku dan aku memujiNya
Ia menyembahku dan aku menyembahNya
Pada satu saat aku mengakuiNya
Dan pada sering kali aku mengingkariNya"
Al-Hallaj berkata "Saya kafir dengan agama Allah, dan kafir wajib bagi saya sedang bagi kaum muslimin adalah buruk"
Diantara mereka ada juga yang mengatakan "Barangsiapa berkata bahwa yang ada di alam semesta ini adalah selain Allah maka ia telah kafir". Na'udzubillah min dzalik
Mungkin inilah diantara sebab-sebab muncul dan tersebarnya fenomena kuburiyah ini, semoga Allah melindungi kita dari kesesatan dan bahayanya penyakit ini.

D. Bentuk-bentuk Penyimpangan Kaum Ini
Setiap masa, penyimpangan ini memiliki bentuk yang berbeda, menurut waktu dan versi serta tempat kejadian dan adapun diantara bentuk pelanggaran yang sampai saat ini masih mereka lakukan antara lain :
1. Membangun masjid diatas kuburan
Rasulullah telah berwasiat dalam sabdanya "Laknat Allah untuk orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi sebagai masjid-masjid"
Dari jundub bin Abdullah al Bajali,mendengar Nabi bersabda :"Ingatlah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan Nabi-Nabi dan orang-orang sholeh sebagai masjid-masjid, ingatlah jangan menjadikan kuburan sebagai masjid, karena sesungguhnya aku melarang kalian dari hal itu"
Jumhur Hanabilah berfatwa dengan hadits Rasul yang diriwayatkan Abu Sa'id al Khudri dari rasulullah : "Bumi seluruhnya adalah masjid selain kuburan dan kamar mandi"
Ulama thaif pada umumnya melarang perbuatan ini, adapun Maliki dan Syafi'I mengharamkan hal ini.
2. Bersafar untuk berziarah kubur dan tabarruk dengannya
Diriwayatkan dari Abu Said al Khudri dia berkata, saya mendengar Rasulullah bersabda : "tidak boleh diikat : janganlah kamu mengikat pelana-pelana unta kecuali untuk mendatangi tiga masjid : masjidku ini, masjidil haram,dan masjidil aqsha'."
3. Menerangi kuburan dengan lampu
Karena hal ini merupakan bid'ah dan menyia-nyiakan harta. Rasul bersabda :"sesungguhnya Allah membenci untuk kalian tiga perkara :'katanya dan katanya, menyia-nyiakan harta dan banyak bertanya'." Ibnu Hajar al haitami dalam kitabnya al Zawajir beliau mengisyaratkan bahwa hal ini termasuk dosa besar.
4. Membangun kuburan dan menulisnya
Dari jabir a dia berkata : "Rasulullah melarang menyemen kuburan dan duduk diatasnya, serta mendirikan bangunan di atasnya" Imam Nawawi dalam kitab majmu' menyatakan "Imam syafi'i dan para sahabat mengatakan bahwa merupakan hal yang dibenci adalah menembok kuburan, menulisi nama yang mati dan membangunnya.
5. Menjadikan kuburan sebagai tempat perayaan dan ritual ibadah
Rasulullah melarang dalam sabdanya : "Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai ied (tempat perayaan) dan jangan jadikan rumah-rumahmu sebagai kuburan."
Sampai-sampai beliau berdoa dan memohon kepada Allah "yaa Allah, janganlah engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah" . ibnu taimiyah berkata "shalat dikuburan hukumnya makruh dan haramkan oleh madzhab imam Ahmad"
6. Nadzar dan menyembelih untuk kuburan
Sesungguhnya kedua hal ini termasuk dalam ibadah, jadi seseorang tidak boleh mengarahkannya melainkan hanya kepada Allah
Semata. Dari Ali berkata, Nabi bersabda : "Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah" wallahu a'lam bishowab



Maraji' :
 Imathat al-Litsam wa kabh al-Auham, Mamduh Farhan al-Buhairi/ kuburan agung. Pustaka Darul Haq.
 Fatawa Lajnah Daimah lil buhuts wa Ifta', syaikh Ahmad bin Abdur Razzaq ad Duwaisy.
 Fiqh al Ad'iyyah wa Adzkaar, Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al Badad.
 Jaami'ul Masail, Syaikh Islam Ibnu Taimiyah.
 Majmu' Fatawa wa Rasail, Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin.
 Syifaaus Shudur fi Ziyarati wa Masyahidi wal Qubur, Mar'a bin Yusuf al Karmi al Hanbali

Misteri Alam Jin


Apa Itu Jin
Jin adalah makhluk yang berakal yang mempunyai kemampuan untuk memilih jalan kebaikan dan keburukan. Jin memiliki alam tersendiri dan bukan alam malaikat atau alam manusia. Alam yang tersembunyi dari pandangan manusia

sehingga mereka disebut Jin karena tertutup (ijtina'). Jin adalah makhluk yang diciptakan dari api sebagaimana yang terdapat dalam surat Ar-Rahman ayat 15. Dan Jin lebih dahulu diciptakan daripada penciptaan manusia (Al-Hijr: 26-27).
Nama-Nama Jin Dan Kelompoknya
Ibnu Abd Al-Barr mengatakan bahwa menurut para ahli ilmu kalam dan bahasa, Jin memiliki tiga jenis sebutan:
1. Bila yang mereka maksudkan adalah Jin secara murni, maka mereka dipanggil Jinni.
2. Bila yang mereka maksudkan Jin yang tinggal bersama manusia, maka mereka dipanggil Amir, jamaknya Imar.
3. Jika yang dimaksud Jin yang nampak pada anak-anak kecil, maka mereka dipanggil Arwah.
4. Jika ia jahat dan mengganggu, maka ia dipanggil Syaitan.
5. Jika kejahatannya lebih daripada syaitan dan pengaruhnya lebih kuat, maka disebut Afrit.
Kemudian mengenai kelompok Jin Rasulullah bersabda:
"Jin ada tiga kelompok : satu kelompok terbang melayang diudara. Satu kelompok lagi berupa ular dan anjing. Dan satu kelompok lagi diam dilumpur dan berjalan." (HR. Thabrani, Al-Hakim dan Al-Baihaqi dengan isnad shahih, Shahih Al-Jami' 3/85)
Syaitan Dan Jin
Kata syaitan dalam bahasa Arab dijadikan istilah bagi segala sifat yang angkuh dan durhaka. Dinamakan syaitan karena keangkuhan dan kedurhakaannya kepada Allah. Dan syaitan memiliki nama lain diantaranya yaitu Thaghut yang artinya melampuau batas (An-Nisa`:76). Allah juga menamai mereka Iblis karena keterputusasaannya dari rahmat-Nya. Iblis adalah bentuk kata benda bahasa Arab diambil dari kata Ilbalasa yang berarti orang yang tidak mempunyai kebaikan. Ublisa berarti putus asa dan bingung.
Syaihkhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa syaitan adalah asli Jin sebagaimana Adam yang asli manusia. (lihat Majmu' Fatawa: 4/235,346).
Makanan Dan Minuman Jin
Banyak hadits yang menjelaskan akan hal ini diantaranya adalah riwayat Tirmidzi dengan isnad yang shahih Rasulullah bersabda, "Jangan kalian beristinja` dengan kotoran binatang dan jangan pula dengan tulang. Karena ia merupakan bekal bagi saudara-saudara kalian dari bangsa Jin."
Dan tentang bagaimana syaitan makan Rasulullah menjelaskan, "Jika seseorang diantara kalian makan, hendaklah ia makan dengan tangan kanannya. Dan bila ia minum hendaklah ia minum dengan tangan kanannya juga. Karena syaitan itu makan degan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya juga." (Shahih Muslim).
Ibnu Qayyim membuat suatu kesimpulan dengan firman Allah:
"Sesungguhnya minuman arak, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan." (Al-Maidah: 90). Karenanya segala minuman yang memabukkan adalah minuman syaitan.
Perkawinan Manusia Dengan Jin
Dalil yang menunjukkan bahwa perkawinan antara manusia dengan Jin bisa terjadi adalah firman Allah :
"Mereka belum pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni surga) dan tidak pula oleh Jin" (Ar-Rahman: 56).
Ibnu Taimiyah berkata, "Kadang-kadang manusia kawin dengan Jin dan lahirlah seorang anak dari keduanya. Peristiwa ini banyak terjadi dan sudah masyhur." (Majmu' Fatawa 19/39). Sekalipun demikian banyak ulama` yang membenci perkawinan ini. Sebab tidak ada hikmah dari perkawinan tersebut (Ar-Rum: 21).
Kediaman Jin Dan Waktu-Waktu Munculnya
Jin bertempat tinggal di bumi diamana kita tinggal diatasnya, mereka banyak berada di tempat-tempat kotor dan najis seperti permandian, tempat buang kotoran, sampah-sampah dan kuburan. Mereka juga banyak terdapat di tempat-tempat maksiat seperti pasar dan juga menginap di rumah-rumah manusia namun mereka dapat diusir dengan bacaan-bacaan dzikir kepada Allah apalagi ketika mendengar adzan dikumandangkan. Dan rasulullalh menjelaskan bahwa mereka banyak bertebaran ketika datangnya kegelapan malam.
Hewan-Hewan Yang Ditemani Jin
Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud bahwa jin pernah meminta bekal kepada Rasulullah lalu beliau bersabda' "Bagi semua tulang yang disebutkan nama Allah padanya. Ia akan tiba di tangan-tangan kalian sebagai makanan. Dan, bagi kalian seluruh kotoran sapi yang juga merupakan makanan bagi binatang-binatang kalian." (HR. Muslim).
Hadits ini menunjukkan bahwa Jin memiliki binatang-binatang dan diantara hewan yang selalu mereka temani adalah unta sebagaimana sabda Nabi, "Sesungguhnya untua itu diciptakan dari syaitan-syaitan, dan di belakang setiap unta ada syaitan." (Shahih Al-Jami': 2/52). Karenanya Rasulullah melarang kita shalat dikandang unta.
Kemampuan Jin Menyerupai Beberapa Rupa Dan Bentuk
Jin mempunyai kemampuan untuk menyerupai bentuk manusia dan binatang. Dan terkadang menyerupai binatang unta, keledai, sapi, anjing terutama anjing dan kucing hitam serta ular.
Dalam shahih Muslim Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya di Madinah ada sekelompok jin sudah masuk Islam. Maka yang melihat para penghuni ini, hendaklah ia mengizinkannya (menampakkan diri) tiga hari. Jika tetap nampak sesudah itu, hendaklah ia membunuhnya, karena sesungguhnya dia itu syaitan."
Dan syaitan dapat berjalan cepat pada aliran darah manusia. Rasulullah bersabda : "Sesungguhnya syaitan berjalan cepat pada diri manusia di tempat mengalirnya darah." (Shahih Al-Bukhari dan Muslim).
Kelemahan Jin
Jin dan syaitan selain memiliki kekuatan diantaranya adalah ketangkasan berpindah namun mereka juga memiliki kelemahan. Allah berfirman : "Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah." (An-Nisa: 76).
Diantara kelemahan mereka adalah tiada kekuatan bagi syaitan atas hamba-hamba Allah yang shalih sebagaimana firman-Nya, "Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga." (Al-Isra`: 65).
Diantara kelemahannya pula bahwa jin-jin tidak dapat melewati batas-batas tertentu sebab jika mereka melanggar maka mereka akan mati dengan nyala api dan cairan tembaga. Hal ini dijelaskan dalam surat Ar-Rahman : 33-35.
Kemudian jin juga tidak dapat membuka pintu yang ditutup dengan menyebut nama Allah padanya. Rasulullah bersabda, "Tutuplah pintu-piintu dan sebutlah nama Allah padanya. Karena syaitan itu tidak dapat membukan pintu yang ditutup dengan mnyebut nama-Nya." (HR. Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim dengan sanad shahih).
Bila seorang hamba komitmen di atas kebenaran maka syaitan akan memisahkan diri darinya sebagaimana sabda Rasulullah, "Sesungguhnya syaitan benar-benar memisahkan diri darimu wahai Umar." (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dengan isnad shahih).
Syaitan hanya berkuasa pada hamba-hamba yang lantaran mereka menyukai fikirannya dan mengikutinya suka dan patuh kepadanya (Al-Hjr: 42).
Syaitan Terkadang Menguasai Orang-Orang Beriman Disebabkan Dosa-Dosa Mereka
Dalam hadits disebutkan, "Sesungguhnya Allah Ta'ala bersama hakim selama hakim itu tidak zalim. Bila zalim, maka Allah berlepas darinya dan ia akan ditempati syaitan." (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi dengan isnad hasan).
Allahberfirman : "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir." (Al-A'raf: 175-176).
Menundukkan Jin Untuk Sulaiman
Allah telah menundukkan untuk Nabi-Nya, Sulaiman sekelompok jin dan syaitan sehingga mereka mengerjakan apa saja yang diperintahkan kepada mereka dan akan dihukum jika melanggar. Firman Allah:
"Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu." (Shad: 36-38).
Dan Allah berfirman dalam surat Saba`: 12-13 : "Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tung-ku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih."
Hal ini sebagai bukti dikabulkannya do`a Sulaiman dimana beliau pernah berdo`a : "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi". (Shaad:35).
Do`a inilah yang kemudian mencegah Nabi untuk mengikat seorang jin yang datang kepada beliau dengan membawa panah api yang akan dilemparkannya ke muka beliau.
Ketidakmampuan Jin Mendartangkan Mukjizat
Jin tidak dapat mendatangkan mukjizat sebagaimana yang dibawa oleh para Rasul, sehingga ketia orang-orang kafir mengatakan bahwa Al-Qur`an itu adalah buatan syaitan maka Allah menentang manusia dan jin untuk mendatangkan yang serupa dengan Al-Qur`an sebagaimana diterangkan dalam surat Al-Isra`: 88.
Jin Tidak Dapat Menyerupai Rasulullah Dalam Mimpi
Rasululllah bersabda, "Barangsiapa yang bermimpi melihat aku, maka sesungguhnya dialah aku. Karena syaitan itu tidak dapat menyerupai aku." (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih).
Namun dalil ini tidak mencegah syaitan untuk menyeruupai selain rupa Rasulullah lalu mengaku bahwa dia dengan rupa tersebut adalah Rasulullah padahal bukan. Jadi tidak setiap yang bermimpi melihat Rasulullah itu adalah benar kecuali jika sifat-sifat yang dilihatnya sesuai dengan sifat-sifat yang diriwayatkan dalam hadits tentang beliau .
TUJUAN PENCIPTAAN JIN
Tujuan penciptaan jin sama dengan diciptakannya manusia yaitu untu beribadah kepada Allah semata. Sebagaimana firman-Nya, "Tidaklah Aku menciptakan Jin dan manusia kecuali untuk beribadah." (Adz-Dzariat: 56).
Sehingga yang taat diantara mereka akan masuk kedalam Jannah sedangkan yang ingkar akan dimasukkan kedalam neraka jahannam sebagaimana banyak dinyatakan di dalam Al-Qur`an diantara surat Al-An'am: 130 dan Al-A'raaf: 38.
Hal ini sebagai bukti sampainya risalah syariat kepada mereka.
Beban Dan Tanggungjawab Yang Sesuai Dengan Kemampuan Mereka
Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa 4/233 berkata, "Bangsa jin diperintahkan untuk mengerjakan suatu perkara usul dan furu' yang sesuai dengan ukuran mereka. Mereka tidak sama dengan manusia dalam batasan dan hakikat perkara, karena itu perintah dan larangan yang ditujukan kepada mereka tidak sama dengan yang diberikan kepada manusia. Mereka sama dengan manusia dalam hal dibebani perintah dan larangan, dibebani halal dan haram. Mengenai hal ini saya tidak tahu adanya perselisihan diantara kaum muslimin."
Bagaimana Wahyu Sampai Kepada Mereka
Karena mereka mukallaf, tentu saja harus ada wahyu yang sampai kepada mereka. Lalu bagaimanakah sampainya wahyu kepada mereka? Dalam hal ini pendapat yang paling kuat adalah bahwa Rasul yang diutus kepada manusia adalah Rasul yang diutus kepada bangsa jin, sebagaimana ucapan jin ketika mendengar Al-Qur`an, "Kami mendengar kitab yang turunkan setelah zaman Nabi Musa." (Al-Ahqaf: 30).
Risalah Muhammad ` Yang Bersifat Umum
Sudah menjadi ijma' Ahlussunnah bahwa Nabi Muhammad diutus kepada bangsa jin dan manusia. Sehingga ini menunjukkan bahwa Al-Qur`an adalah petunjuk bagi jin manusia. Firman Allah : "Katakanlah (hai Muhammad): 'Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Qur'an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur'an yang mena'jubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami." (Jin: 1-2).
Utusan Jin
Bangsa Jin yang mendengarkan syariat kemudian beriman dan menyebarkan seruan tersebut kepada kaumnya. Sehingga datang utusan mereka kepada Nabi ketika di Makkah untuk mempelajari syariat-syariat Allah dan Rasul-Nya.
Dalam riwayat Thabari dari Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah bersabda, "Aku menginap pada malam itu. Aku membacakan Al-Qur`an kepada Jin dan berhenti pada kata hujuun."
Mereka Memerintahkan Kepada Kebaikan Dan Menjadi Saksi Bagi Orang Islam
Abu Sa'id berkata, "Saya mendengar dari Rasulullah bahwa beliau telah memberitahukan bahwa jin-jin akan menjadi saksi pada hari kiamat terhadap orang-orang yang mendengarkan adzannya." (HR. Bukhari).
Urutan Mereka Dalam Kebaikan Dan Kejahatan
Tingkatan mereka dalam hal ketakwaan dan kekufuran sama hal manusia. Firman Allah, "Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda." (Jin: 11).
Tabiat Syaitan
Setelah pembangkangannya kepada Allah ia berubah menjadi kafir dan begitu bersemangat untuk menjerumuskan manusia kedalam kesesatan. Allah berfirman : "Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu diantara mereka kesemuanya." (Shaad: 85).
SYAITAN MENYERUPAI PELBAGAI MACAM RUPA
Syaiatan terkadang datang menggoda dalam bentuk manusia. Terkadang pula hanya dengan suara tanpa terlihat siapa yang berbicara atau ia datang dengan bentuk yang aneh untuk menipu manusia. Namun ini semua hanya dilakukan terhadap orang yang kufur kepada Allah atau terhadap orang-orang yang berbuat kemungkaran dan dosa-dosa besar.
Orang-Orang Yang Dilayani Syaitan Mendekatkan Diri Kepadanya Dengan Perbuatan Maksiat
Orang yang mengaku memiliki ilmu hitam pada hakekatnya syaitan itulah yang melayani mereka dan sebagai timbal baliknya mereka harus mendekatkan diri kepada syaitan-syatan itu dengan kekufuran dan kemusyrikan. Misalnya menulis kalamullah dengan benda-benda najis atau membolak-balikkan hurufnya.
Orang-Orang Ghaib
Sebagaimana yang dikatakan oleh Thahawiyah, bahwa di antara syaitan-syaitan itu ada yang dinamakan "Orang-orang ghaib" dimana sebagian manusia dapat berbicara kepada mereka. Mereka mampu memperlihatkan hal yang luar biasa dan karenanya mereka mengaku sebagai wali-wali Allah dan mereka ini pada hakekatnya adalah saudara-saudaranya orang musyrik sungguh amat jauh perbedaan antara wali Allah dengan wali-wali syaitan.
Hukum Mempekerjakan Dan Mempergunakan Jin
Di muka telah dijelaskan tentang do`a Nabi Sulaiman. Maka jelas jika diantara manusia memperoleh ketaatan jin, ini bukanlah suatu penyihiran akan tetapi dengan kemauan jin itu sendiri. Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa 11/306 menjelaskan tentang hukum mempekerjakan jin sebagai berikut :
Beberapa hal mengenai hubungan jin dan manusia
Siapa yang dapat memerintahkan jin untuk menjalankan kebaikan dan kewajiban yang diperintahkan Allah berupa ibadah, maka ia termasuk wali-wali Allah. namu barangsiapa yang melakukannya dalam hal kemaksiatan kepada Allah berupa kekufuran dan kemusyrikan berarti dia telah meminta bantuan kepada jin dalam urusan kekafiran dan kemusyrikan maka ia telah keluar dari millah.
MENDATANGKAN ARWAH
Pengakuan seorang akan kemampuan mendatangkan arwah bukanlah masalah yang baru bahkan pengakuan seperti itu sudah terjadi sejak tempo duloe. Ustadz Muhammad Hussain di dalam bukunya Ar-Ruhiyah Al-Haditsah (Spritualisme Modern) talah banyak mengungkapkan tentang tipu daya dan pemalsuan hakikat oleh mereka yang mengaku dapat mendatang arwah. Beliau juga mengungkapkan cara yang kedua, dengan mempergunakan jin dan cara kedua inilah yang banyak mereka gunakan.
Pengkajian Masa Kini
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Izzuddin Al-Bayanuni dalam buku Al-Imam bil Malaikah didapatkan suatu kesimpulan bahwa masalah ini adalah suatu pembohongan dan merupakan pengakuan yang menjerumuskan kepada kekufuran. Karena tidak ada seorang pun yang dapat mendatangkan roh, syaitanlah yang menyesatkan mereka.
Mendatangkan arwah adalah suatu hal yang mustahil karena hal itu termasuk hal yang ghaib. Allah berfirman, "Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ruh. Katakanlah Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (All-Isra`: 85).
Dan Allah juga menjelaskan bahwa Dialah yang memegang ruh manusia ketika mati dan menahannya ketika mati (Az-Zumar: 42).
JIN DAN ILMU GHAIB
Sesungguhnya bangsa jin tidak mengetahui hal yang ghaib. Terbukti ketika Nabi Sulaiman telah Wafat, Allah membiarkan jasadnya berdiri tegak, sementara itu jin-jin yang telah ditundukkan untuk Sulaiman terus bekerja tanpa menyadari kematian tuannya. Allah berfirman, "Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan." (Saba`:14).
Tukang Ramal Dan Dukun
Dengand keterangan diatas jelas bahwa pengakuan tukang ramal dan dukun akan pengetahuan mereka tentang hal-hal yang ghaib adalah pengakuan yang menyesatkan yang bertentangan dengan akidah Islam. Bahkan Ibnu Qayyim dalam bukunya Al-Ighatsah mengatakan bahwa dukun-dukun itu adalah utusan syaitan. Bagi yang mempercayainya adalah kafir. Karenya Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal lalu bertanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari." (HR. Muslim dan Ahmad). Jika demikian bagaimanakah hukum dukun dan tukang ramal itu sendiri?
Ahli Nujum
Membuat ramalan yang isinya tentang hukum dan pengaruh adalah haram hukumnya. Adapun pernyataan bahwa ahli nujum terkadang benar maka pada hakikatnya itu menipu manusia. Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah tentang dukun-dukun maka beliau bersabda, "Mereka tidak ada apa-apanya" sahabat bertanya lagi, "Ya Rasulullah mereka membicarakan sesuatu kemudian terjadi." Kemudian beliau menjawaab, "Kata-kata itu ada benarnya, jin mendengarkannya secara sembunyi lalu membisikkannya di telinga walinya, lantas mereka mencampurkannya dengan seratus lebih kebohongan." (HR. Bukhari dan Muslim).
JIN DAN PIRING TERBANG
Untuk menyesatkan manusia, syaitan berusaha menggunakan cara yang berbeda-beda dalam setiap masa. Masa sekarang ini diwarnai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu mereka meyesatkan manusia dengan cara yang dapat menarik perhatian manusia dan sekaligus mempengaruhi jiwanya. Manusia sekarang banyak yang memfokuskan perhatiannya tentang kemungkinan adanya kehidupan makhluk-makhluk selain mereka di sana.

Mau Nggak jadi Pewaris Surga ?


Tiap kali kita berbicara mengenai surga terlintas di pikiran kita kenikmatannya, kesenangannya, sungai madu yang sangat manis, sungai susu, sungai khamr dan lain-lain. Surga adalah tempat yang penuh dengan kenikmatan, tidak ada kesedihan didalamnya, penghuninya hidup dengan penuh kebahagaian

karena mereka dapat memandang wajah Allah yang mulia. Terlebih ketika mereka memasuki surga dengan tingkatan yang paling tinggi Firdaus namanya. Karena dari surga ini mereka dapat melihat penghuni surga-surga yang ada dibawahnya. Allah mensifati orang-orang yang akan mewarisi surga ini dengan ayat-ayat-Nya yang terdapat dalam kitab-Nya Al-Qur'an yang mulia.
Firman Allah dalam surat Al-Mukminun ayat 1- 11
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya".
Ketika para sahabat menanyakan akhlaq Rasulullah kepada Aisyah :
"Kami bertanya kepada Aisyah : Bagaimana akhlaq Rasulullah? Beliau menjawab: Akhlaq Rasulullah adalah Al-Qur'an. Beliau membaca (qod afalahal mukminun sampai ayat wal ladzina hum ala solawatihim yuhafidzun) beginilah akhlaq Rasulullah. [HR. An-Nasa'i]
Dalam ayat pertama dikatakan bahwa orang yang beriman adalah orang yang beruntung. Hal ini berarti selain orang yang beriman tidak akan mendapatkan keberuntungan. Kenapa mereka dikatakan sebagai orang yang beruntung? Karena mereka adalah orang-orang yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka mendapat keberuntungan berupa kebaikan dunia dan akhirat. Dan ini berarti tidak semua orang yang beriman akan mendapatkan surga itu, karena memang surga Firdaus tidak diperuntukan bagi setiap orang yang beriman, lalu siapakah orang yang akan mendapatkannya? Berikut ini adalah pemaparan mengenai hal itu.

SIFAT-SIFAT PENGHUNI SURGA FIRDAUS
Allah menjelaskan sifat-sifat orang yang akan menghuni surga Firdaus-Nya dengan beberapa ayat dalam surat ini.

1. Orang yang khusyu' dalam sholatnya
Imam Al Qurtubi menyebutkan dalam kitabnya bahwa sebab turunya ayat ini adalah ketika Rosulullah dan para sahabatnya tidak memandang ketempat sujud ketika sholat. Maka Allah menegur mereka semua agar sholat yang mereka lakukan menjadi khusyu’. [Tafsir al jami li ahkamil Qur’an]
Sholat adalah tiangnya agama, sholat juga merupakan ibadah yang dapat mendekatkan seorang hamba dengan Rabb-nya. Sholat yang kita laksanakan setiap harinya ini memiliki syarat dan rukunnya, hal mana ini merupakan sebab diterimanya sholat yang kita lakukan. Diantara rukun-rukun sholat itu adalah khusyu'.
Khusyu' berarti menghadirkan hati, dan pikiran hanya kepada Allah semata. Karena pentingnya menghadirkan kekhusyu’an dalam sholat sampai-sampai Nabi memerintahkan seorang sahabat untuk mengulangi sholatnya. Maka, tanda tanya yang besar bagi kita, apakah sholat yang kita lakukan selama sudah khusyu'???
Ketahuilah! bahwa ciri pertama hamba Allah yang akan mewarisi surga Firdaus-Nya adalah orang-orang yang khusyu' dalam sholatnya.
Meskipun para ulama telah memberikan trik-trik agar kita meraih kekhusyu'an dalam sholat, tapi jika kita tidak berusaha keras maka hal itu akan sia-sia. Marilah kita tiru bagaimana kekhusyu'an Rasulullah dan sahabat-sahabatnya dalam sholat mereka.

2. Orang-orang yang menjauhkan dirinya dari hal-hal yang tidak berguna
Seorang muslim yang baik adalah yang dapat menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat baginya. Hal ini adalah sebagaimana yang telah disinyalir oleh Rasulullah dalam haditsnya:
"Bukti dari baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat". [HR.Tirmidzi]
Imam Ibnu Katsir menafsirkan "laghwu" adalah kebathilan, dan ini mencakup kesyirikan, kemaksiatan dan perkataan juga perbuatan yang tidak mendatangkan manfaat [Tafsir Al-Qur'anul Adzim, 3/ 32]. Allah juga mensifati hamba-Nya (‘ibadur rohman) dengan sifat ini dalam firman-Nya:
"Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya".

3. Orang-orang yang menunaikan zakat
Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat ini, dan yang paling masyhur adalah dua pendapat:
• Maksud zakat di sini adalah zakat maal (harta) ini adalah pendapat Ibnu Katsir dan kebanyakan ulama.
• Maksud zakat di sini adalah zakat jiwa yaitu menyucikannya dari kesyirikan, kemaksiatan dan dosa. [Tafsir Al-Qur'anul Adzim, 3/ 321, Adhwaul Bayan, 5/ 517]
Adapun hari ini kita dapati betapa banyak manusia yang enggan menunaikan zakat, meskipun pada hakikatnya dia adalah orang yang mampu. Maka dalam hal ini para ulama menghukumi orang-orang yang enggan menunaikan zakat dengan beberapa hukum, dan ini adalah hukuman di dunia:
a) Orang yang enggan menunaikan zakat karena bakhil dan dia meyakini kewajibannya maka hukuman bagi orang yang seperti ini adalah suatu kemaksiatan yang besar, fasiq dan tidak dikafirkan. Apabila dia meninggal dia dimandikan, disholatkan dan pada hari kiamat perkaranya diserahkan kepada Allah.
b) Orang yang enggan menuniakan zakat dikarenakan menolak akan kewajibannya setelah datang penjelasan kepadanya, maka hukuman bagi orang seperti ini adalah kufur, tidak disholatkan dan tidak dikuburkan dikuburan kaum muslimin. [Fatawa Lajnah Daimah, 9/ 184]
Adapun hukuman bagi mereka di akhirat adalah sebagaimana firman Allah:
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu". [QS at-Taubah: 34-35]

4. Orang-orang yang senantiasa menjaga kemaluannya.
Sifat seorang mukmin yang akan beruntung, mendapat surga Firdaus dan kekal di dalamnya adalah mereka yang senantiasa menjaga kemaluannya dari hal-hal yang diharamkan Allah. Yaitu menjaga dirinya dari perbuatan zina, liwat dan semua yang dilarang Allah. Kecuali kepada istri-istri dan budak-budak mereka. Imam As-Syafi'i, Imam Malik dan orang-orang yang sepakat dengan beliau mengharamkan onani dengan ayat ini. Syaikh Syanqithi juga berpendapat demikian. [Tafsir Al-Qur’anul Adzim, 3/322 dan Adhwaul Bayan, 5/ 519]
Adapun orang-orang yang mencari selain dari yang demikian (yang telah ditentukan Allah) dari istri dan budak, mereka adalah orang-orang yang melampui batas.

5. Orang-orang yang menjaga amanat dan janjinya
Di antara sifat yang membedakan orang mukmin dengan orang munafik adalah pada hal amanah yang debankan kepada mereka. Orang mukmin adalah orang yang senantiasa menjaga amanahnya.
Rasulullah mensifati orang munafik dalam haditsnya:
"Tanda-tanda orang munafik ada tiga : apabila berkata dusta, apabila berjanji mengingkari, apabila diberi amanat khianat". [HR. Bukhari dan Muslim]
Amanah ini mencakup segala hal yang telah Allah titipkan kepada kita dan Dia perintahkan untuk menjaganya. Termasuk di dalamnya menjaga anggota badan kita dari hal-hal yang tidak diridhai Allah.
Adapun janji yang dimaksud dalam ayat ini adalah semua hal yang engkau telah berjanji umtuk menjaganya, berupa hak-hak Allah dan hak-hak manusia. Amat banyak ayat yanga menjelaskan perihal ini dalam Al-Qur'an diantaranya (an-Nisaa’: 58) (al-Anfal : 27) (al-Ma'arij : 32) (al-Israa’: 34) (al-Maaidah : 1) (al-Fath: 10) (an-Nahl : 91) dan (al-Anbiya’: 78).
Oleh karena itu, hendaklah setiap muslim untuk senantiasa menjaga amanah yang dibebankan kepadanya dan janjinya. Karena sungguh amanah itu akan ditanyakan pada hari kiamat, Rasulullah bersabda:
"Tiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya….". [HR. Bukhari dan Muslim]

6. Orang-orang yang menjaga sholatnya
Allah  memulai memberikan ciri-ciri hamba-Nya yang akan mewarisi surga-Nya dengan sholat kemudian ditutup juga dengan sholat. Hal ini mengindikasikan bahwa sholat adalah ibadah yang sangat urgen. Karena sholat merupakan pembeda antara keislaman dan kekufuran, sebagaimana sabda Rasulullah :
“Sesungguhnya pembeda antara keislaman, kesyirikan dan kekufuran adalah sholat”. [HR. Muslim]
Ciri yang terakhir ini adalah kelanjutan dari ciri yang pertama. Yang itu berarti bahwa orang yang telah khusyu' dalam sholatnya dia dituntut untuk menepati waktunya.
Sholat adalah ibadah yang telah ditetapkan waktunya, maka janganlah sekali-kali kita mengundur-undur waktu yang telah ditetapkan itu. Allah berfirman:
"Sesungguhnya sholat telah ditentukan waktu-waktunya atas orang-orang yang beriman ".
Allah mengancam hamba-hamba-Nya yang mengerjakan sholat dengan firman-Nya :
"Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat. (yaitu) orang yang lalai dari sholatnya. Dan ingin dilihat oleh orang lain”.
Makna saahun dalam ayat ini adalah sebagaimana yang telah dijelaskan oleh sahabat Sa'ad bin Abi Waqqash :
"Mengakhirkan sholat dari waktunya". [Al-Kabair, Imam Adz-Dzahabi, 52]
Atha' bin Dinar berkata : Segala puji bagi Allah yang telah mengatakan "'an (dari)" tidak "fii (di dalam)", karena kata 'an telah mencakup segala hal baik itu lalai dari waktunya dengan mengakhirkannya atau lalai dari kekhusyu'an dalam sholat.
Coba kita perhatikan! Orang yang sholat saja akan disiksa oleh Allah manakala dia tidak menjaga sholatnya. Lantas bagaimanakah nasib orang-orang yang meninggalkan sholat sedangkan ia tahu akan kewajibannya?
Allah berfirman :
"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan ". [QS Maryam: 59]
Ibnu Abbas menafsirkan yang dimaksud dengan ghoyyan adalah kerugian, adapun Imam Qotadah menafsirkannya dengan keburukan, sedangkan Ibnu Mas'ud menafsirkannya dengan sebuah lembah yang terletak di neraka jahannam yang dalam lagi berbau busuk dan penuh dengan hal yang menjijikan, Abi Ayyad mengatakan ghoyyan adalah lembah di neraka yang berasal dari nanah dan darah. [Tafsir Qur'anul Adzim, 3/174 dan Al-Kabair, 52]
Dalam riwayat Imam Ahmad dikatakan bahwa orang-orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja, mereka nanti pada hari kiamat akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir'aun, Haaman dan Ubay bin Kholaf. Wal 'iyadzu billah.
Maka, surga Allah bagi kita manakala kita melaksanakan semua perintah Allah yang telah Dia perintahkan.
Dalam sebuah hadits qudsi dikatakan :
“Aku (Allah) telah siapkan bagi hamba-hambaKu sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan tidak terdetik dalam hati seseorang”.

Demikianlah sifat atau ciri hamba-hamba Allah yang akan mewarisi surga Firdaus surga yang paling tinggi. Mereka kekal di dalamnya dan menikmati hasil dari segala apa yang telah mereka usahakan semasa di dunia. Ini adalah janji Allah dan Allah tidak akan pernah menyelisihi janji-Nya. Semoga kita termasuk dari mereka dan berusaha untuk menjadi mereka. Amiin ya Robbal alamiin.

Wallahu A'lam bish Showab