Menuntut Ilmu

Seandainya tanpa ilmu, maka manusia itu ibarat binatang

Lebih Dekat Dengan Qur'an

Tidaklah sekelompok orang berkumpul untuk mempelajari al-Quran, melainkan akan turun kepada mereka berkah dari Allah.

Jangan Lupa Qiyamul Lail

Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.

Sholat berjamaah

mari semangat sholat lima waktu di masjid.

Halaqoh Quran

Hidup Makmur, Mulia dan Bahagia bersama Al Quran.

Tampilkan postingan dengan label Sejarah islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Mei 2012

Siapa Saja Jaringan Israel di Indonesia?

Sejatinya banyak orang Indonesia yang  menjadi bagian dari jaringan Zionis-Israel.  Anehnya justeru yang banyak membangun “connection” (hubungan jaringan) dengan Zionis-Israel dari kalangan tokoh-tokoh Islam di Indonesia.
Kalau beberapa hari lalu, di dunia Arab geger, dan bahkan parlemen Mesir mengajukan resolusi, yang mengecam dan menginginkan agar Mufti Al-Azhar Dr. Ali Juma’ah dipecat sebagai Mufti  Al-Azhar, karena melakukan kunjungan ke Jerusalem. Di mana Jerusalem masih dibawah pendudukan Zionis-Israel. Kunjungan Ali Juma’ah itu, dinilai memberikan legitimasi (pembenaran) atas pendudukan dan penjajahan Jerusalem oleh Zionis-Israel.

Senin, 19 Maret 2012

Jangan Bilang Syi'ah Tak Sesat Sebelum Saksikan Video, Foto dan Ebook Ini!!

JAKARTA (voa-islam.com) – Pernyataan oknum pengurus MUI Pusat yang berbicara atas nama pribadi tapi mencatut institusi MUI, bahwa Syi’ah bukan sekte sesat melainkan mazhab Islam, melahirkan kontroversi di kalangan umat Islam. Pasalnya, selama ini mayoritas umat Islam hanya mengenal empat mazhab, sedangkan Syi’ah adalah sebuah sekte sesat yang meyakini banyak doktrin kekufuran.

Jumat, 16 Maret 2012

Jagoan wanita di zaman Rasulullah SAW – Nusaibah si Jago Pedang

Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam yang mulia berdiri di puncak bukit Uhud dan memandang musuh yang merangsek maju mengarah pada dirinya. Beliau memandang ke sebelah kanan dan tampak olehnya seorang perempuan mengayun-ayunkan pedangnya dengan gagah perkasa melindungi dirinya. Beliau memandang ke kiri dan sekali lagi beliau melihat wanita tersebut melakukan hal yang sama – menghadang bahaya demi melindungi sang pemimpin orang-orang beriman.

Senin, 12 Maret 2012

SEBAB-SEBAB KEKALAHAN UMAT


Syariat Islam itu indah, keindahannya akan semakin tampak ketika kita menyelami konsep-konsep dalam mengajarkan tatanan kepada pemeluknya dalam mengarungi perjalanan hidup ini (terlebih dalam mengajarkan konsep peperangan). Diantara konsep yang Allah ajarkan kepada umat ini adalah yang tertera dalam ayat Allah :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ.
Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.

Minggu, 07 Agustus 2011

Kegembiraan Ramadhan Yang Terenggut Di Jalur Gaza


Ihab Al-Ashqar, seorang remaja Gaza berusia 14 tahun, tersenyum pahit saat menjelaskan mengapa ia tidak merasakan kegembiraan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
“Semua perbatasan ditutup. Mereka (Israel) sedang membunuh kami perlahan,” katanya Ihab pedih.
Sebagaimana hampir 1,6 juta orang di Gaza, Ashqar kehilangan kegembiraan bahwa Ramadhan adalah bulan istimewa bagi seluruh muslim tiap tahunnya.
Tahun ini, bulan suci Ramadhan mendatangi Gaza yang sedang dilingkupi oleh barbarisme perang Israel dan tercekik oleh pengepungan bangsa Zionis.
“Hati kami dan rumah kami disesaki duka dan kesedihan,” kata Huda Al-Astal membatin.
“Hidup kami merana. Kami hampir tidak dapat bernafas.”
Israel telah mengisolasi wilayah Gaza dan penduduknya dari dunia sejak Hamas terpilih untuk berkuasa pada tahun 2006, serta menutup semua perbatasan.

Senin, 29 November 2010

ABU HURAIRAH

Nama beliau yang sebenarnya sebelum masuk islam adalah Abu Syamsi, kemudian setelah beliau masuk islam ia diberi nama oleh Rasulullah dengan nama Abdurrahman bin Shohrin Adduwaysie , adapun kemudian ia dijuluki dengan Abu Hurairah .........
karena Ia sangat penyayang kepada binatang dan mempunyai seeokor kucing, yang selalu diberi makan, digendongnya, dibersihkannya dan diberi tempat. Kucing itu selalu menyertainya seolah-olah bayang-bayangnya. Inilah sebabnya ia diberi gelar "Bapak kucing" Semoga Allah ridlo kepadanya dan menjadikannya ridla kepada Allah….!

B. Otaknya Menjadi Gudang Pembendaharaan Pada Wahyu.
Sahabat mulia Abu Hurairah termasuk salah seorang yang memiliki bakat yang istimewa, beliau mempunyai bakat yang luar biasa dan kekuatan ingatannya. Abu Hurairah mempunyai kelebihan dalam seni menghafal dan menyimpan apa yang didengarnya, ditapungnya lalu dihafalkan hingga ia tak pernah melupakan satu kata atau satu hurufpun dari apa yang telah ia dengarnya, sekalipun usia telah bertambah dan masa pun telah berganti-ganti. Oleh karena itulah ia mewakafkan hidupnya lebih banyak untuk mendampingi Rasulullah sehingga termasuk orang yang terbanyak menghafal dan menerima hadits dari Rasulullah.
Sewaktu datang masa pemalsu-pemalsu hadits yang dengan sengaja membikin hadits bohong dan palsu, seolah-olah berasal dari Rasulullah. Mereka memperalat nama Abu Hurairah dan menyalah gunakan ketenarannya dalam meriwayatkan hadits dari Nabi Saw; hingga sering mereka mengeluarkan sebuah hadits dengan menggunakan kata-kata ”bekata Abu Hurairah…."
Dengan perbuatan ini hampir-hampir mereka menyebabkan ketenaran Abu Hurairah dan kedudukannya selaku penyampai hadits dari Nabi Saw. Menjadi lamunan keragu-raguan dan tanda tanya, kalaulah tidak ada usah susah payah dan ketekunan yang luar biasa, serta banyak waktu yang telah di telah dihabiskan oleh tokoh-tokoh ulama hadits yang telah membaktikan hidup mereka untuk berkhidmat kepada hadits Nabi dan menyingkirkan setiap tambahan yang dimasukkan kedalamnya.
Abu Hurairah berhasil lolos dari jaringan kepalsuan dan penambahan-penambahan yang sengaja hendak diselundupkan oleh kaum perusak kedalam islam, dengan mengkambing hitamkan Abu Hurairah dan membebankan dosa dan kejahatan mereka kepadanya.
Beliau adalah salah seorang yang menerima pantulan revolusi islam, dengan segala perubahan yang ia buat. Dari orang upahan menjadi induk orang yang mengupah atau majikan, dari seorang yang terlunta-lunta ditengah-tengah lautan manusia, menjadi imam dan ikutan! Dan dari seorang yang sujud kepada batu-batu yang disusun, menjadi orang yang beriman kepada Allah. Beliau berkata ; _"Aku dibesarkan dalam keadaan yatim, dan pergi hijrah dalam keadaan miskin, aku menerima upah sebagai pembantu pada Basrah binti Ghazwan demi untuk mengisi isi perutku. !aku lah yang melayani keluarga itu bila sedang ingin berpergian, sekarang inilah aku, Allah telah menikahkanku dengan putri Bushrah, maka segala puji bagi Bagi Allah yang telah menjadikan agama ini tiang penegak, dan menjadikan Abu Hurairah ikutan umat…!"
Ia datang kepada Nabi Saw pada tahun ketujuh hijriyah sewaktu beliau berada di khoibar; ia memeluk islam karena dorongan kecintaan dan kerinduan, dan semenjak ia bertemu dengan Nabi Saw dan berabaiat kepadanya, hampir-hampir ia tidak pernah berpisah lagi dari padanya kecuali pada saat-saat waktu tidur. Begitulah berjalan selama empat tahun yang dilaluinya bersama Rasulullah Saw, yakni sejak ia masuk islam sampai wafatnya Nabi, pergi ke Maha Tinggi. Kita katakan, "Waktu yang empat tahun itu tak ubahnya bagai suatu usia manusia yang panjang lebar, penuh dengan segala yang baik, dari perkataan sampai keapada seluruh perbuatan dan pendengaran.
Dengan fitrahnya yang kuat, Abu Hurairah mendapat kesempatan yang besar yang memungkinkannya untuk memainkan peranan penting dalam berbakti kepada agama Allah, beliau adalah orang yang mampu melihat dan memelihara peninggalan dan ajaran-ajaran agama, pada waktu memang ada para sahabat yang mampu menulis, tetapi jumalah mereka sedikit sekali, apalagi sebagiannya tak mempunyai kesempatan untuk mencatat hadits-haits Rasulullah.
Sebenarnya Abu Hurairah bukanlah seorang penulis, ia hanyalah seorang yang menghafal, disamping memiliki kesempatan dan mampu mengadakan kesempatan yang diperlukan, karena ia tak punya tanah yang akan digarap, dan tidak pula perniagaan yang akan diurus.
Ia pun menyadari bahwa ia termasuk orang yang masuk islam belakangan, maka ia bertekad untuk mengejar ketinggalannya, dengan cara mengikuti rasul terus menerus dan secara tetap mengikuti majelisnya, kemudian disadari pula adanya bakat pemberian Allah ini pada dirinya, berupa daya ingatannya yang luas dan kuat, serta semakin bertambah kuat, tajam dan luas lagi dengan doa Rasul, agar pemilik bakat ini deberi Allah berkat.
Ia menyiapkan dirinya menggunakan bakat dan kemampuan karuia ilahi untuk memikul tanggung jawab dan memelihara peninggalan yang sangat penting ini dan mewariskannya kepada generasi kemudian. Dan beliau adalah seorang yang misikin, yang paling banyak menyertai majlis Rasulullah, maka dia hadir disaat yang lainnya absen keran kesibukan, dan disuatu hari Rasul pernah berbicara kepada para sahabat :
"Siapa yang membentangkan surbannya hingga selesai pembicaraanku, kemudian ia meraihnya kedirinya, maka ia takkan terlupa akan suatupun dari apa yang telah didengarnya dari padaku." (HR. Bukhori no 2047, Muslim 2492)
Maka kuhamparkan kainku, lalu ia berbicara kepadaku, kemudian kuraih kain itu kederiku, dan demi Allah, tak ada suatu pun yang terlupa bagiku dari apa yang aku dengar dari padanya. Demi Allah kalau bukan karena tidak adanya ayat didalam kitabullah niscaya tidak akan ku kabarkan kepada kalian sedikitpun ! ayat ini adalah ;
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati, (Qs. Albaqarah 159)
Oleh sebab itu ia harus saja memberitakan, tak suatu pun yang menghalanginya dan tak seorang pun boleh melarangnya, hingga pada suatu hari Umar berkata kepadanya, "Hendaklah kamu hentikan menyampaikan kabar dari Rasulullah! Jika tidak maka akan kukembalikan kamu ketanah Daus.
Tetapi larangan ini tidak mengandung suatu tuduhan bagi Abu Hurairah, hal itu hanyalah sebagai pengukuhan dari suatu pandangan yang dianul oleh Umar, yaitu agar ornag-orang islam dalam jangka waktu tersebut, tidak mebaca dan menghafalkan yang lain, kecuali Al-Qur'an sampai ia mantap dan melekat dalam hati sanubari dan pikiran.
Al-Qur'an adalah kitab suci Islam, undang-undang dasar dan kamus lengkapnya, dan terlalu banyaknya cerita tentang Rasulullah, terlebih lagi saat menyusul wafatnya Saw, saat sedang dihimpunnya Al-Qur'an, dapat menyebabkan kesimpangan dan campur baur yang tak perlu terjadi.
Oleh karena itu Umar berkata kepadanya, "Sibukkanlah dirimu dengan Al-Qur'an karena dia adalah kalamullah." Dan katanya lagi, "Kurangilah olehmu meriwayatkan perihal Rasulullah, kecuali yang mengenai amal perbuatannya, "
Dan sewaktu beliau mengutus Abu Musa Al-As'ary ke Irak ia berpesan kepadanya, "Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum yang dalam masjid mereka terdengar bacaan al-qur'an seperti suara lebah. Maka biarkanlah seperti itu dan jangan engkau bimbangkan mereka, dengan hadits-hadits, dan aku menjadi pendukaung kamu dalam hal ini.
Abu Hurairah menghargai pandangan Umar, tetapi ia juga percaya terhadap dirinya dan ia teguh juga terhadap dirinya dan memenuhi amanat, hingga ia tak mau menyembunyikan suatu pun dari hadits dan ilmu selama diyakininya bahwa menyebunyikan adalah dosa dan kejahatan.
Pada suatu hari Marwan bin Hakam, bermaksud ingin menguji kemampuan hafalan dari Abu Hurairah, maka dipanggilnya ia dan dibawanya duduk bersamanya, lalu dimintanya untuk mengabarkan hadits dari Rasulullah, sementara itu disuruhnya penulisnya menuliskan apa yang diceritakan Abu Hurairah dari balik dindig. Sesudah berlalu selama satu tahun, dipanggilnya Abu Hurairah kembali, dan dimintanya membacakan hadits-hadits yang dulu itu yang telah ditulis oleh sekretarisnya, ternyata tak ada yang terlupa oleh Abu Hurairah, walau sepatah katapun.
Ia berkata tentang dirinya, "Tak ada seorang pun dari sahabat-sahabat Rasul yang lebih banyak menghafal hadits dari padaku, kecuali Abdullah bin Amr bin Ash, karena ia pandai menuliskannya sedang aku tidak..!"
Abu Hurairah termasuk ahli ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah, selalu melakukan ibadat bersama-sama istrinya dan anak-anaknya semalam-malaman secara bergiliran; mula-mula ia berjaga-jaga sampai sambil shalat sepertiga malam kemudian dilanjutkan oleh istrinya sepertiga malam dan sepertiganya lagi dimanfaatkan oleh putrinya..,"dengan demikian tak ada saat pun yang berlalu setiap malam dirumah Abu Hurairah, melainkan berlangsung disana ibadat, dzikir dan shalat. !
Karena keinginannya memusatkan perhatian untuk menyertai Rasul, ia pernah menderita kepedihan lapar yang jarang diderita orang lain. Rasa sakit menggigit perutnya, maka diikatnya batu dengan surbannya dengan kedua tangannya, lalu terjatuhlah ia dimasjid sambil menggeliat-geliat kesakitan hingga sebagian sahabat menyangkanya ayan, padahal sama sekali bukan..!
Abu Hurairah hidup sebagai seorang ahli ibadah dan seorang mujahid, tak pernah ia ketinggalan perang, dan tidak pula dari ibadat. Dizaman Umar bin Khatthab ia diangkat sebagai seorang amir untuk daerah Bahrain, sedang umar sebagaimana yang kita ketahui adalah seorang yang keras dan teliti terhadap pejabat-pejabat yang diangkatnya. Apa bila ia mengangkat seseorang sedang ia mempunyai dua pasang pakaina, maka sewatu meninggalkan jabatannya nanti, haruslah orang itu hanya mempunyai dua pasang pakain juga, malah lebih utama kalau ia memiliki satu pasang saja! Apabila waktu meninggalkan jabatan itu terdapat tanda-tanda kekayaan, maka ia takkan luput dari interogasi Umar, sekalipun harta tersebut berasal dari hartanya yang halal! Suatu dunia lain yang di isi oleh Umar dengan hal-hal luar biasa dan mengagumakan..!
Rupanya sewaktu Abu Hurairah memangku jabatan sebagai kepala daerah Bahrian ia telah menyimpan harta yang berasal dari sumber yang halal. Hal ini diketahui oleh Umar, maka ia pun dipanggilnya kemadinah, dan Umar berkata, "Hai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, apa engkau telah mencuri harta Allah ? maka beliau menjawab, "Aku bukan musuh Allah dan tidak juga kitab-Nya, akan tetapi aku menjadi musuh orang yang memusuhi keduanya dan aku bukanalah orang yang mencuri harta Allah ! dari mana kamu peroleh sepuluh ribu itu ? beliau menjawab kuda kepunyaanku beranak pinak dan pemberian orang berdatangan. Kembalikan harta itu keperbendaharaan negara (baitul mall).
Abu Hurairah menyerahakan hartanya itu kepada Umar, kemudian ia mengangkat tangannya kearah langit sambil berdoa. "Ya Allah ampunilah Amirul Mukminin…'
Tak selang beberapa lamanya. Umar memanggil Abu Hurairah kembali dan menawarkan jabatan kepadanya diwilayah baru. Tapi ditolaknya dan dimintanya maaf karena tak dapat menerimanya. Kata Umar kepadanya, "Kenapa apa sebabnya?" jawab Abu Hurairah; "Agar kehormatanku tidak sampai tercela, hartaku tidak dirampas, punggku tidak dipukul…!' kemudian katanya lagi: "Dan aku takut menghumi tanpa ilmu dan bicara tanpa belas kasih.."
Pada suatu hari sangatlah Abu Hurairah rindu hendak ketemu dengan Allah, selagi orang-orang mengunjunginya dan mendoakannya supaya cepat sembuh dari sakitnya, ia sendiri berulang-ulang memohon kepada Allah dengan berkata, "Ya Allah sesungguhnya aku sudah sangat rindu hendak bertemu dengan-Mu Semoga Engkau pun demikian..!" dalam usia 78 tahun, tahun yang ke-59 H ia pun berpulang kerahmatillah, disekeliling orang-orang shalih penghuni pandam pengkuburan Baki', ditempat yang beroleh berkah, disanalah jasadnya dibaringkan..! dan sementara orang-orang yang mengiringi jenazahnya kembali dari kuburan, mulut dan lidah mereka tiada henti-hentinya membacakan hadits yang disampaikan Abu Hurairah kepada mereka dari Rasulullah yang mulia.

C. Periwayatan Hadits
Beliau adalah salah seorang sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah, beliau meriwatkan hadits sebanyak 5374 hadits. Dan lebih dari 800 orang yang meriwatkan hadits darinya.

D. Guru-Guru dan Murid-Muridnya
 Guru-guru besar Abu Hurairah
 Umar bin Khattab
 Ibnu Abbas
 Ali bin Abi Tholib
 Hasan bin Tsabit Almundzir
 Hamil bin Basroh bin Waqosh
 Saad bin Malik bin Sinan bin Ubaid
 Aisyah binti Abi Bakar
 Abdullah ibnu Salam bin Harits
 Abdullah ibnu Utsman bin Amir
 Utsman bin Affan
 Ubay bin Ka'ab
 Usamah bin zaid
 Ka'ab bin Mati'
 Basroh bin Abi Basroh

 Murid-Murid Abu Hurairah
 Ibrahim bin Ismail
 Ibrahim bin Ibrahim
 Ibrahim bin Abdullah
 Ubad bin Anas
 Abdullah bin harmuz
 Abu Walid Maula Amru khodas
 Abdul Malik bin Abi Hurairah
 Marwan bin Hakam
 Suud bin Malik
 'urak bin Malik
 'amir bin Saad bin Abi waqash
 Muhammad bin Mungkadir
 Atho'
 Urwah bin Zubair

E. Derajat Udul dan Tsiqoh
Pada dasarnya semua sahabat mereka adalah Udul dan Tsiqoh, dan Abu Hurairah adalah merupakan seorang sahabat yang paling tinggi derajat Udul dan Tsiqohnya diantara sahabat-sahabat yang lain.

F. Tempat Tinggal dan Wafatnya Abu Hurairoh
Sebelum beliau meninggal beliau bermukin di Madinah, kemudian pada tahun 57 H beliau wafat, dan kemudian dikuburkan di Baqi'

G. Ringkasan Singkat Biodata Abu Hurairoh
Nama : Abdurrahman bin Sohrin
Nama Ibu : Maimunah binti Shobih
Nasab : Ad-Dausy Al-Yamany
Julukan : Abu Hurairoh
Tempat Tinggal : Madinah
Wafat : Madinah 59 H

H. Daftar Pustaka
 Al-Qur'an Al-Karim
 Mukhtashor shohih bukori
 Shohih Muslim
 Tarikh Tasryi' Al-Islamy. Manna'ul Qatthan. Maktabah Wahbah, Mesir, Cet ke 5/2005 M
 Tarikh Tasryi' Al-Islamy, Hudloir Bik, Darul Ihya', Indonesia
 Rijal Haular Rasul , Kholid Muhammad Kholid, Edisi Indonesia, Cv Diponogoro, Bandung Cet ke 16/2000 M
 Tarikh Khulafa', Imam Suyuty, Maktab Al'asriyah, Beirut 1979 M
 Alkitab Mu'tamar Al'aly Ar-Rabi' Lissiroh Wa Sunnah An-Nabawiyah, Al-Azhar, November 1985 M
 Riyadlus Sholihin, Imam An-Nawawi, Dar As-Salam Riyadh Cet Ke 13/1991 M

ABU DZAR AL GHIFARI

Abu Dzar, nama aslinya adalah Jundub bin Junadah, termasuk dari a'yan sahabat dan ahli zuhud di kalangan mereka. Islam sejak lama di Makkah kemudian kembali kepada kaumnya, .......
tinggal bersama Nabi di Madinah, sakanur rabdzah dan meninggal pada tahun ke-32 H. [Bulughul maram min adillatil ahkam, Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalany, hlm.45]

Awal mula keislamannya
SEORANG LELAKI MUDA bernama Jundub bin Junadah, datang ke tempat pemujaan. Suku pemuda itu, Ghifar, memang penyembah berhala bernama Munat. Jundub orang miskin, dan datang ke pemujaan itu untuk mempersembahkan susu. Jundub menanti. Ternyata, berhala Munat tidak meminum susu itu. Toh demikian, Jundub tetap ada di hadapannya.
Beberapa waktu kemudian, muncul seekor rubah yang langsung meminum susu persembahan Jundub tersebut. Sebelum pergi rubah itu mengangkat satu kakinya dan ... mengencingi berhala itu.
Munat tidak bereaksi apa-apa. Akhirnya Jundub tertawa geli. “Kenapa aku menyembah batu bodoh seperti ini?” katanya pada diri sendiri. “Dikencingi pun, dia tidak bereaksi apa-apa! Benar-benar bodoh!”
“Kalau begitu” fikir pemuda itu. “Berhala yang lain pun, seperti Hubal, Latta dan lainnya, juga tidak bisa berbuat apa-apa kalau dikencingi seperti Munat”
Dalam pencariannya, Jundub akhirnya sampai pada kesimpulan: “pasti ADA SESUATU yang lebih dari itu semua. Yang menguasai semua ini!”
Pada saat-saat itulah, Jundub mendengar : katanya ada ‘nabi baru’ di Mekkah. Hal itu katanya juga sudah diramalkan dalam kitab-kitab terdahulu. Dan dikatakan para ahli agama pula.
Penasaran, Jundub mengirim saudaranya, Anis, untuk mengecek kebenaran berita itu. Anis pun melakukan perjalanan sangat jauh, ratusan kilometer, menuju Mekkah. Setelah itu, dia pulang memberitahukan apa yang dilihat.
Jundub lebih penasaran lagi. Karena itu, dia merasa ‘harus membuktikan sendiri’. Gambaran Anis tidak lengkap, karena Anis takut mendekati nabi baru itu !
Sampai di Mekah, Jundub tidak tahu harus pergi ke mana. Untung ada anak muda yang menyapanya dengan ramah. Bahkan kemudian mengajaknya ke rumah. Omong-omong, anak muda itu akhirnya tahu keinginan Jundub. Pemuda itu bersedia mengantarkannya ke Nabi baru yang disebutnya itu.
Anak muda itu bernama Ali.

Perjalanan hidupnya
ABU Dzar al-Ghifari adalah seorang yang berani berterus-terang memberikan pendapat, meskipun kepada seorang khalifah. Menurut riwayat, suatu peristiwa berlaku selepas Saidina Usman bin Affan dilantik menjadi khalifah.
Pada masa itu, Usman memberikan 300,000 dirham kepada seorang yang bernama Marwan, sementara 100,000 dirham lagi kepada Zaid bin Sabit. Peristiwa itu dilihat oleh Abu Dzar.
Disebabkan tidak bersetuju dengan pemberian itu, Abu Dzar menegur khalifah dengan kata-kata: "Gembirakanlah kaum kafir itu dengan neraka." Di samping itu, Abu Dzar juga menyebut ayat al-Quran daripada surah at-Taubah yang antara lain bermaksud: "Dan mereka yang menghimpun emas dan perak dan tidak mengeluarkannya bagi kepentingan menegakkan agama Allah, maka gembirakanlah mereka dengan azab yang amat pedih pada hari kemudian."
Kata-kata itu memang meninggalkan kesan kepada mereka yang mendengarnya, termasuk Marwan sendiri yang kemudian bertindak mengadukan hal itu kepada khalifah.
Apabila Usman mendapat tahu perkara itu, beliau menghantar seorang utusan yang juga pembantunya untuk menemui Abu Dzar bagimenasihatkannya supaya tidak mengkritik khalifah dengan begitu keras.
Apa yang disampaikan oleh utusan daripada khalifah itu sebaliknya tidak mendatangkan apa-apa kesan kepada Abu Dzar. Beliau tidak menghiraukannya sama sekali. Sebaliknya, lebih menguatkan keazaman Abu Dzar untuk menyuarakan pendapatnya berasaskan kepada kebenaran itu.
Selepas mendengar teguran khalifah yang disampaikan melalui utusan itu, Abu Dzar bertanya kembali: "Apakah Usman mahu melarang aku daripada membaca kitab Allah?"
Pertanyaan itu mengelukan lidah sesiapa saja untuk menjawabnya kerana kata-kata itu tentulah berdasarkan kepada hakikat kebenaran kerana ia bersandar kepada kitab Allah.
Abu Dzar seterusnya melanjutkan kata-katanya: "Sesungguhnya aku lebih memilih mendapatkan keredaan Allah, sekalipun dimarahi Usman, daripada mendapat keredaan Usman tetapi dimurkai Allah."
Mendengar kata-kata itu, utusan berkenaan tidak dapat mempertikaikan apa pun mengenai Abu Dzar. Sikapnya yang jujur, ikhlas dan berani berterus-terang menyuarakan isi hatinya demi kebenaran itu akan ‘mematikan’ apa juga hujah yang di luar landasan agama.
Dengan sikap dan semangat waja itulah, Abu Dzar terus membuat teguran membina kepada Khalifah Usman, termasuk dalam urusan pemerintahannya.
Berikutan kritikannya itu, pada suatu ketika, Usman memerintahkan agar Abu Dzar meninggalkan Madinah dan ke Syam.
Perintah itu tidak diingkarinya, sebaliknya Abu Dzar mematuhinya lalu berpindah ke Syam.
Bagaimanapun, dengan perpindahan itu tidak bermakna Abu Dzar turut menghentikan sikap jati dirinya yang rela menegur sesuatu yang dilihatnya sebagai tidak sesuai atau tidak sejajar dengan ajaran Islam.
Beliau berpegang kepada kebenaran Allah. Justeru, apa saja yang tergelincir daripada dasar itu, beliau tetap menegurnya sekalipun kini tidak tinggal lagi di Madinah.
Ketika di Syam, Abu Dzar terus menegur pembesar yang dilihatnya tidak begitu sesuai dengan ajaran Islam. Di Syam, dia pernah menegur Gabenor Syam, Muawiyah.
Keutamannya
Pada hakikatnya, apa yang disuarakan oleh Abu Dzar dalam pelbagai kritikannya terhadap pembesar negara, termasuk Khalifah Usman dan Muawiyah adalah suara yang mewakili suara majoriti umat Islam.
Sekiranya ada tindakan khalifah yang tidak wajar seperti memberikan banyak kelonggaran kepada tokoh penting sahabat meninggalkan Madinah untuk ke daerah yang jauh dengan memiliki banyak kekayaan, Abu Dzar tetap menegurnya.
Tegurannya dibuat atas dasar membina. Sebaliknya jika pembesar negara berasakan mereka tidak sanggup menerima kritikan setajam itu terpulang kepada mereka.
Abu Dzar sedia menerima apa saja hukuman, termasuk berpindah ke tempat lain tetapi hasratnya untuk menyuarakan pendapat yang benar tetap akan dilaksanakan walaupun tidak menjadi seorang tokoh popular.
Sifat berterus-terang dan berani menyuarakan pendapat demi kebenaran Islam ini adalah suatu ciri yang menjadikannya seorang perawi hadis yang bertanggungjawab.
Kesempurnaan jiwanya
a. Kezuhudan dan ketaqwaannya
Pada suatu hari seorang laki-laki datang ke rumah Abu Dzar. Oang itu melayangkan pandangannya ke setiap pojok rumah Abu Dzar. Dia tidak menemukan apa-apa dalam rumah itu. Karena itu orang tersebut bertanya kepada Abu Dzar :
"Hai Abu Dzar! dimana barang-barangmu ?"
Jawab Abu Dzar, "Kami mempunyai rumah yang lain (di akhirat), barang-barang kami yang bagus telah kami kirimkan ke sana."
Orang tersebut rupanya mengetahui maksud Abu Dzar. Lalu dia berkata pula, "Tetapi nukankah kamu memerlukan juga barang-barang itu di rumah ini (di dunia) ?"
"Tetapi yang punya rumah (Allah) tidak membolehkan kami tinggal di sini (di dunia) selama-lamanya." Jawab Abu Dzar.
Pada suatu ketika Wali Kota Syam mengirimkannya tigaratus dinar. Katanya, "Manfaatkanlah uang ini untuk memenuhi kebutuhan anda !"
Abu Dzar mengembalikan uang itu seraya berkata,
"Apakah Wali Kota tidak melihat lagi seorang hamba Allah yang lebih memerlukan bantuan ?" [Shuar min Hayatish Shahabah, DR. Adurraman Ra'fat Basya, hlm.114]
b. Ibadahnya
c. Takut kepada Allah
d. Ilmunya
e. Kemuliaan
f. Kesabarannya
g. Keberaniannya
Segera setelah Jundub bertemu Muhammad (SAW), dia langsung ‘jatuh cinta’. Lalu bersahadat masuk Islam. “Rahasiakanlah dulu keislamanmu, dan kembalilah ke kampung halamanmu!” perintah Nabi.
“Demi Allah” jawab Jundub yang kemudian lebih dikenal dengan nama Abu Dzar Al-Ghifari, “saya akan menyebarkan Islam di antara orang-orang Quraish!”
Abu Dzar membuktikan ucapannya. Keesokan harinya, dia pergi ke Ka’bah (yang waktu itu masih penuh berhala) dan berteriak: “aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad rasul Allah!”
Orang-orang Quraish kaget dan sangat marah. Lalu mendekati. Karena Abu Dzar terus omong, mereka kemudian memukulinya sampai pingsan.
Keesokan harinya, Abu Dzar berbuat yang sama. Dan orang-orang Quraish lebih ganas memukulinya, sampai Abu Dzar pingsan pula.
ABU DZAR tidak pernah berubah dari ‘sikap dasarnya’ itu. Kebenaran tidak untuk disembunyikan, tapi dibeberkan secara terbuka. Akibat dari sikap itu tidak ada artinya, asal hati tetap bersikukuh hanya Allah satu-satunya yang perlu ditakuti.
Abu Dzar kemudian mampu meng-Islam-kan sukunya, Ghifar. Bahkan juga suku lainnya, Aslam. Kedua suku itu, semuanya, tua-muda lelaki-perempuan, kemudian berbondong-bondong menemui langsung Nabi Muhammad (SAW) ketika telah hijrah ke Madinah.
Nabi Muhammad tersenyum kagum. “Takkan pernah lagi dijumpai di bawah langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar!” kata Nabi pula.
Suatu hari, Nabi bertanya: “Abu Dzar, bagaimana pendapatmu bila menjumpai ada pembesar yang mengambil barang upeti (kekayaan) untuk diri sendiri ?”. Jawab Abu Dzar tegas : “Demi yang telah mengutus Anda dengan kebenaran, akan saya tebas mereka dengan pedangku!”
“Maukah kamu aku beri jalan yang lebih baik dari itu ? Yaitu bersabar sampai kamu menemuiku!”
‘Menemuiku’ artinya: sampai Abu Dzar meninggal. Janji Nabi itu dipegang teguh oleh Abu Dzar: para pembesar di mana pun, asal dijumpai hidup mewah dan berfoya-foya, maka Abu Dzar akan ‘menembaknya’ dengan teriakan kerasnya: “Beritakanlah kepada para penumpuk harta/yang menumpuk emas dan perak/ mereka akan diseterika dengan seterika api neraka/ menyeterika kening dan punggung mereka di hari kiamat!”
Sebagai konsekuensi tindakannya, Abu Dzar kemudian dikenal sebagai “mahaguru hidup sederhana”. Tentu saja, sikapnya itu tidak disenangi para pembesar yang sangat risih pada teriakan teriakan Abu Dzar itu.
“Pemimpin dan pembesar, haruslah yang pertama kali menderita kelaparan sebelum anak buah atau rakyatnya. Sebaliknya, paling belakang menikmati kekenyangan setelah mereka!”

Nasehatnya
Beliau berkata :
"Kesempurnaan taqwa adalah dengan meninggalkan sebagian yang halal karena takut jika hal itu menjadi haram" [Al Wafi fi Syarhil Arba'in an Nawawi, DR. Musthafa al Bugha & Muhyiddin Mistawi, hlm. 86]
Wafatnya
Ketika Rasulullah telah pergi berlalu dengan para sahabat-sahabatnya dan ternyata ada orang-orang yang tidak ikut atau tertinggal. Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, Fulan telah tertinggal". Maka Rasulullah menjawab, "Biarkan dia, maka andai ia masih memiliki kebaikan maka Allah akan menggabungkan dirinya dengan kalian, dan jika ia tidak demikian maka Allah telah menyelamatkan kalian darinya".
Salah seorang sahabat ada yang berkata, "Wahai Rasulullah, Abu Dzar telah tertinggal karena untanya lambat." Rasulullah menjawab, "Biarkan dia, maka andai ia masih memiliki kebaikan maka Allah akan menggabungkan dirinya dengan kalian, dan jika ia tidak demikian maka Allah telah menyelamatkan kalian darinya".
Dan Abu Dzar pun jadi tambah terlambat di atas untanya, maka ketika untanya tidak mampu berjalan lagi, maka Abu Dzar pun mengambil barang-barang bawaannya dan memanggulnya dan berjalan menyurusi jejak kaki Rasulullah. Dan Rasulullah pun turun dari kendaraanya dan kemudian salah seorang pengintai dari sahabat memandang ke jauh ke belakang, tiba-tiba ia berkata, "Wahai Rasulullah, Itu ada seorang laki-laki menuju kesini dengan berjalan kaki sendirian".
Maka Rasulullah bersabda, "Semoga benar dia Abu Dzar". Maka, ketika sekelompok sahabat memperhatikan dengan seksama, maka tiba-tiba mereka pun berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah, dia adalah Abu Dzar". Maka Rasulullah pun bersabda, "Semoga Allah mengasihi Abu Dzar, ia berjalan sendirian, dan meninggal sendirian, dan dibangkitkan kelak pun sendirian".
Dan sabda Rasulullah ini benar-benar terbukti, sebab Utsman bin Affan ketika itu ada perbedaan pendapat dengan Abu Dzar, dan Abu Dzar pun menjauh dan meninggalkan Utsman bin Affan. Dan tiada yang menemani kepergiannya kecuali isteri dan anaknya, maka beliau pun memberi wasiat kepada isteri dan anaknya itu agar keduanya yang memandikan dan mengkafaninya kalau ia meninggal. Kemudian, letakkanlah aku dipinggir jalan, dan katakanlah kepada orang pertama yang melewatiku bahwa ini adalah Abu Dzar, sahabat Rasulullah, tolonglah kami untuk menguburkannya."
Maka, tatkala Abu Dzar meninggal, keduanya pun melakukan apa yang diwasiatkannya, lalu meletakkan beliau di pinggir jalan.
Maka Abdulah bin Mas'ud dan sekelompok rombongan dari penduduk Iraq pun lewat untuk melakukan umrah. Tiada yang mereka dapati di perjalanan kecuali sebuah jenazah di pinggir jalan yang disampingnya ada seekor unta dan seorang anak yang sedang berdiri danberkata, "Ini adalah Abu Dzar sahabat Rasulullah, maka tolonglah kami untuk menguburkannya".
Maka, Abdullah bin Mas'ud pun menangis dan berkata, "Sungguh telah benar Rasulullah, beliau bersabda bahwa Abu Dzar, dia berjalan pergi sendirian, dan meninggalpun dalam kesendirian, dan akan dibangkitkan dalam kesendirian pula".
Kemudian, ibn Mas'ud pun turun dari kendaraannya, begitu juga para sahabatnya pun menguburkannya. Lalu Ibn Mas'ud pun menceritakan kepada mereka sebuah hadits, sebuah kisah yang di dalamnya Rasulullah bersabda tentang Abu Dzar ketika dalam suatu perjalanan menuju Tabuk. Nama asli Abu Dzar adalah Jundub bin Junadah, meninggal pada tahun 32H.
Sumber: Min Mu'jizatin Nabiy shallalahu 'alaihi wa sallam Syaikh Abdul Aziz Al-Muhammad Al-Salman

Minggu, 31 Oktober 2010

Zainab binti Jahsy: Muslimah Patriotik, Berjiwa Besar dan Dermawan

DIA ADALAH Zainab binti Jahsy bin Riab bin Ya’mar Al-Asadiyah, dari Bani Asad bin Khuzaimah Al-Mudhari. Ibunya bernama Umayyah binti Abdul Muthalib bin Hasyim, dan paman-pamannya adalah Hamzah dan Al-Abbas, keduanya adalah anak Abdul Muthalib.Zainab termasuk wanita yang taat dalam beragama, wara’, dermawan, dan baik. Selain itu, dia juga dikenal mulia dan cantik, serta termasuk wanita terpandang di Makkah. Nama aslinya adalah Barrah, namun Nabi Muhammad SAW menyebutnya Zainab. Dinyatakan dalam hadits Al-Bukhari dan Muslim, dari Zainab binti Abu Salamah, dia berkata, “Namaku adalah Barrah, akan tetapi Rasulullah kemudian memberiku nama Zainab.” (HR. Muslim dalam Al-Adab, 14/140).

Zainab memeluk Islam di Makkah dan sempat mengalami siksaan dari orang-orang kafir Quraisy. Namun dia tetap bersabar dan mengharapkan ridha Allah, hingga akhirnya dia ikut berhijrah ke Habasyah (Ethiopia). Bersama kaum muslimin lainnya, Zainab kembali ke Makkah, hingga akhirnya Allah mengizinkannya untuk berhijrah ke Madinah Al-Munawwarah. Zainab termasuk wanita yang pertama kali berhijrah dan memiliki sikap patriot yang diabadikan dalam buku-buku sejarah.

…Zainab memiliki sikap patriot yang diabadikan dalam buku-buku sejarah…

Ketaatannya kepada Allah
Zaid adalah salah seorang hamba sahaya milik Khadijah binti Khuwailid. Ketika Rasulullah menikahi Khadijah, dia memberikan Zaid binti Haritsah kepada beliau. Dan itu terjadi sebelum masa kenabian Muhammad. Zaid kemudian tinggal di rumah Nabi Muhammad. Kemudian keluarga Zaid mencarinya ke Makkah, dan ingin menebusnya. Mereka datang kepada Nabi untuk memintanya dari beliau. Kemudian beliau memberi pilihan kepadanya antara tetap tinggal bersama beliau atau ikut keluarganya. Zaid lebih memilih untuk bersama Nabi daripada harus bersama keluarganya.

Rasulullah lantas keluar ke tempat Hajar Aswad, dan bersabda, “Wahai hadiri sekalian, saksikanlah bahwa Zaid adalah anakku, dia mewarisiku dan aku mewarisinya.” Beliau memanggilnya dengan Zaid bin Muhammad, hingga turunlah firman Allah:

“Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu” (Al-Ahzab 5).

Nabi Muhammad sangat menyayangi Zaid. Ketika Zaid telah memasuki usia menikah, beliau memilihkan Umamah (Zainab), anak perempuan dari bibinya. Namun Zainab dan saudaranya, Abdullah, tidak menyetujui pernikahan itu. Zainab berkata kepada Rasulullah, “Aku tidak rela akan diriku, sedangkan aku adalah gadis Quraisy.” Namun Nabi menghendaki agar Zainab dan Abdullah mau menerima pernikahan itu.

…Ketaatan, keridhaan, dan keikhlasan Zainab merefleksikan kekuatan iman dan relasinya yang baik dengan Allah…

Nabi berkata kepada Zainab, “Nikahilah dia, sesungguhnya aku telah meridhainya untukmu.” Sebelum Zainab ragu tentang pernikahan ini, Allah menurunkan firman-Nya:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (Al-Ahzab 36).

Setelah ayat tersebut diturunkan, Zainab dan saudaranya berkata, “Kami menyetujui, wahai Rasulullah.” Zainab berkata, “Aku telah menyetujui untuk dinikahkan, wahai Rasulullah.” Beliau kemudian bersabda, “Aku Telah merestuimu.” Zainab kembali berkata, “Jadi, aku tidak berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, karena engkau telah menikahkannya denganku.”

Dengan sikapnya ini, Zainab telah memberikan contoh yang terbaik bagi kita dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Demikian, seharusnya sikap yang wajib dilakukan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Menolak ketetapan dan hukum yang ditentukan Allah dan Rasul-Nya merupakan perilaku yang buruk, keras hati, serta tidak sesuai dengan sikap yang diajarkan Islam. Ketaatan, keridhaan, dan keikhlasan Zainab merefleksikan kekuatan iman dan relasinya yang baik dengan Allah.

…Zainab telah memberikan teladan terbaik dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Demikian, seharusnya sikap yang wajib dilakukan terhadap Allah dan Rasul-Nya...

Menjaga Lisan dari Kesalahan
Setelah berpisah dengan Zaid, Zainab kemudian dinikahi oleh Rasulullah. Dengan demikian, dia menempati kedudukan mulia, karena menjadi bagian dari Ummahatul Mukminin. Bahkan, Aisyah pernah berkata, “Tidak ada seorang pun dari istri-istri Nabi yang kedudukannya menyamaiku di sisi beliau selain Zainab.”

Sekalipun tampak ada persaingan antara Zainab dan Aisyah dalam mendapatkan kasih sayang Rasulullah, namun Zainab tetap membela Aisyah pada peristiwa tuduhan kebohongan (haditsul-ifki). Aisyah berkata, “Tidak ada seorang pun dari istri-istri Nabi yang kedudukannya menyamaiku di sisi beliau selain Zainab. Zainab telah dilindungi Allah dalam agama, sehingga dia tidak mengatakan kecuali yang baik.

Dalam suatu riwayat dari Aisyah, dia berkata, “Rasulullah bertanya kepada Zainab binti Jahsy tentang masalahku, dan beliau berkata kepada Zainab, “Apa yang engkau ketahui atau bagaimana pendapatmu?” Dia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku melindungi pendengaranku dan penglihatanku. Demi Allah, aku tidak mengetahui kecuali yang baik.” Aisyah berkata, “Dialah yang menyamaiku dari istri-istri Nabi, maka Allah melindunginya dengan sikap wara’.”

Memang Allah telah melindunginya dan menjaga lisannya dari berkomentar buruk tentang Aisyah. Sikap ini merupakan sikap patriotik yang sungguh luar biasa. Kendati antara Aisyah dan Zainab seakan-akan terselip persaingan dalam mendapatkan kasih sayang Rasulullah, namun Zainab dengan besar hati membela madunya. Dia tidak menggunakan kesempatan itu untuk berkomentar tentang kehormatan Aisyah, dan tidak pula ada keinginan untuk menjelek-jelekkannya. Hendaknya muslimah belajar darinya bagaimana seharusnya menjalin hubungan dengan sesamanya.

…Zainab tidak memiliki kedengkian. Hendaknya muslimah belajar darinya bagaimana seharusnya menjalin hubungan dengan sesamanya..

Zainab tidak memiliki kedengkian kepada Aisyah. Islam telah mengajarkan kepada kita untuk toleran. Dengan kata lain, hubungan dengan sesama harus dibangun di atas dasar cinta, hormat, kasih sayang, dan keikhlasan. Dengan demikian, kehidupan akan berjalan sesuai dengan yang diridhai Allah dan Rasulullah.

Berinfak di Jalan Allah
Setelah Rasulullah wafat, Zainab konsisten untuk tetap tinggal di rumahnya untuk beribadah kepada Allah. Dia mengalami masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Khalifah Umar bin Al-Khatthab., Umar kerap memberikan tunjangan hidup kepada setiap istri Rasulullah sebanyak dua belas ribu Dirham.

Ketika Ummul Mukminin Zainab menerima tunjangan itu dari Umar, dia tidak menyisakan satu Dirham pun untuk dirinya. Dia menginfakkannya secara keseluruhan kepada kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Suatu ketika Umar bin Al-Khatthab mengirimkan kepadanya harta dalam jumlah banyak. Zainab lalu berkata, “Semoga Allah mengampuni Umar. Ummahatul Mukminin selain aku, lebih dermawan dalam membagi-bagikan harta ini.” Dikatakan kepadanya, “Semua harta ini untukmu.”

Zainab kemudian berkata, “Mahasuci Allah Yang Mahaagung.” Dia lalu menutupi harta itu dengan sebuah kain. Dia berkata, “Bungkuslah dengan kain.” Dia lalu menyuruh Barzah binti Rafi’, sembari berkata, “Wahai Barzah, masukkan tanganmu, lalu ambillah segenggam darinya dan bawalah kepada Fulan, kemudian kepada Bani Fulan.”

Zainab kemudian menyebutkan orang-orang dari kerabatnya, anak-anak yatim yang dikenalnya, dan orang-orang miskin. Barzah binti Rafi’ berkata, “Semoga Allah mengampuni dosamu, wahai Ummul Mukminin. Demi Allah sesungguhnya kita memiliki hak dalam dirham-dirham itu.” Zainab berkata, “Apa yang ada di bawah kain itu adalah milik kalian.”

Barzah berkata, “Kami lalu menghitung harta itu dan kami mendapatkannya sejumlah 1285 Dirham.” Zainab kemudian mengangkat tangannya ke langit dan berkata, “Ya Allah, semoga aku tidak lagi mendapatkan pemberian Umar setelah tahun ini.” Allah mengabulkan doa kezuhudannya, dan dia pun wafat pada tahun itu.

…Zainab dikenal sebagai wanita yang mulia, dermawan, dan selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Keagungan sikapnya mengindikasikan kekuatan iman dan hubungannya dengan Allah…

Demikianlah, kita menyaksikan sosok Zainab yang melihat harta sebagai fitnah. Dia dikenal sebagai wanita yang mulia, dermawan, dan selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Dia juga menjalin hubungan baik dengan para kerabat dan sanak keluarganya. Alangkah agung sikapnya dalam kehidupan. Hal itu mengindikasikan kekuatan iman dan hubungannya dengan Allah. [ganna pryadha/voa-islam.com]

Selasa, 04 Agustus 2009

Abu Bakar Ash Shidiq r.a


Dia adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fahr Al Kannani Al‘Adnani.

Beliau biasa dipanggil dengan nama Abu Bakar. Sedangkan bapaknya biasa dipanggil dengan nama Abu Quhafah dan ibunya biasa dipanggil dengan nama Salma binti Shakhr bin Amir. Beliau digelari dengan “Ashshiddiq dan “Al ‘Atiiq.” Gelar “Al’Atiiq” ini dilekatkan kepadanya karena ketampanan wajahnya dan tidak akan tersentuh api neraka. Sedangkan gelar “Ash-Shiddiq” disandangnya dikarenakan banyak melakukan kebenaran dan merupakan orang yang pertama kali yang meyakini kebenaran Rasulullah dan ajaran Allah yang dibawa oleh beliau.
Pada masa jahiliyah beliau membenci minuman khomr, beliau tergolong orang kaya yang dengan kekayaannya banyak membantu orang – orang miskin, dekat dengan kaum quraisy dicintai dikalangan mereka.

Perjalanan Hidupnya
Jika pengungkapan sejarah perjalanan hidup ini dimaksudkan untuk menceritakan sesuatu yang dianggap berlawanan dengan sesuatu yang tercela, dimana pelakunya tidak berhak menyombongkannya, maka sejarah perjalanan hidup yang dialami oleh Abu Bakar ash-Shiddiq ini cukup panjang dan beragam, karena itulah maka kami hanya akan mengungkapkan sebagian kecil dari sejarah perjalanan hidupnya. Adapun sebagian perjalanan hidup yang dialami oleh beliau adalah sebagai berikut:
1. Mengislamkan seluruh anggota keluarganya, dimana tidak ada seorang sahabatpun dari sahabat-sahabat Rasulullah yang mampu melakukannya. Abu Bakar masuk Islam terlebih dahulu, lalu mengislamkan bapaknya dan ibunya, lalu mengislamkan semua anak-anak lakinya, yaitu, Abdullah, Abdurrahman, Muhammad dan anak-anak perempuannya, yaitu, Asma’dzatu An-Nithaqaini (pemilik dua kepang), Aisyah Ummul mukminin dan Ummi Habibah, lalu beliau mengislamkan seluruh isteri-isterinya, yaitu: Ummi Ruman ibu kandungnya Abdurrahman dan Aisyah, Asma’ binti Umais ibu kandung Muhammad, dan Habibah binti Khadijah ibu kandungnya Ummi Kultsum. Semoga rahmat Allah senantiasa tercurah kepada mereka.
2. Al Bukhari telah meriwayatkan bahwa Nabi telah bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling aku percayai dalam segi kesahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar, dan seandainya aku diperintahkan untuk mengambil kekasih selain Tuhanku niscaya aku akan memilih Abu Bakar, bahkan persaudaraan dan kasih sayangnya dalam Islam, sehingga tidak ada pintu kasih sayang yang tersisa dalam masjid selain pintu Abu Bakar .”
3. Abu Bakar turut serta dalam seluruh peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah, sehingga tidak ada satu peperangan pun yang dilakukan oleh Rasulullah yang tidak diikutinya. Beliau turut serta dalam perang Badar, Uhud, Khandak, Khaibar, Futhu Makkah (pembebasan kota Makkah Hunain, Tabuk dan peperangan lainnya baik yang besar maupun yang kecil, dimana tidak ada seorang sahabat pun yang mengikuti seluruh peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah selengkap yang diikuti oleh Abu Bakar. Dalam peristiwa perang Uhud beliau tetap bertahan bersama Rasulullah di medan perang, dan pada waktu perang Tabuk Rasulullah menyerahkan bendera yang besar. Selain itu beliau menemani Rasulullah dalam melakukan hijrah dan memasuki gua Tsur. Sebagaimana hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya, “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Qs. At-Taubah: 40)

Keutamaannya
Jika yang dimaksud dengan keutamaan disini adalah kebalikan dari kehinaan, maka keutamaan yang dimiliki oleh Abu Bakar ini sangat banyak, tetapi kami hanya akan mengemukakan sebagiannya saja. Adapun keutamaan yang dimiliki oleh Abu Bakar itu antara lain adalah:
1. Beliau belum pernah minum-minuman yang memabukkan baik pada masa Jahiliyah maupun pada masa Islam.
2. Beliau khalifah yang pertama kali mengumpulkan tulisan Al Qur’an.
3. Beliau termasuk sahabat Rasulullah yang pertama beriman, mengerjakan shalat dan menjadi khalifah.
4. Beliau termasuk orang yang paling utama dari kalangan umat ini setelah Nabi Muhammad.
5. Beliau telah mengislamkan sebanyak 15 (lima belas) orang sahabat yang dijanjikan masuk surga, yaitu: Utsman bin Afan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awam, Sa’ad bin Abi Waqash dan Abdurrahman bin Auf.

Kesempurnaan jiwa dan akhlaknya
Di bawah ini akan kami kemukakan sebagian kesempurnaan yang dimiliki oleh Abu Bakar yang berkaitan dengan jiwa maupun perilakunya.

Tawadhu’ (Rendah hati)
Dalam mengungkap sifat tawadhu’ Abu Bakar cukup kiranya kami mengemukakan keterangan berikut yang kami anggap dapat mewakili dalam menjelaskan ketawadhuan beliau. Para ulama telah menceritakan bahwa Abu Bakar selalu memerah susu kambing penduduk desanya, sehingga ketika beliau dibaiat menjadi khalifah, maka salah seorang hamba sahaya berkata, “Sekarang, tidak akan ada lagi orang yang memerahkan kita susu kambing di daerah ini,” yang dimaksud adalah Abu Bakar. Beliau mendengar perkataan yang diucapkan oleh hamba sahaya itu, kemudian berkata kepadanya, “Tentu, aku akan tetap memerah susu kambing untuk kalian, dan aku berharap perilaku yang biasa aku lakukan sebelumnya tidak berubah karena menjadi khalifah.” Sehingga ketika beliau sudah menjadi khalifah beliau tetap memperhatikan dan menolong mereka seperti yang beliau lakukan sebelumnya.

Ketakwaannya
Tidak perlu diragukan lagi bahwa Abu Bakar ini merupakan salah seorang dari kalangan umat ini yang paling bertakwa, paling baik dan paling shaleh setelah Nabi Muhammad Sebagaimana firman Allah, “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling bertakwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (dijalan Allah) untuk membersihkannya.” (Qs. Al-Lail: 17-18). Mayoritas ahli tafsir berpendapat bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq beliaulah yang dimaksud dengan pengertian ayat tersebut. Namun demikian lafazhnya dapat diberlakukan kepada orang yang memiliki sifat sebagaimana yang disebutkan dalam ayat tersebut. Di antara bukti lain yang menunjukkan keagungan ketakwaan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagaimana yang diriwayatkan darinya, dimana beliau berkata, “Inilah riwayat-riwayat yang bersumber dariku:
Beliau telah meriwayatkan, seraya berkata, “Ingin rasanya aku menjadi sehelai rambut yang menempel pada badan seorang hamba yang beriman.” Beliaupun pernah mengatakan, “Ingin rasanya aku menjadi sebuah pohon yang dipetik buahnya lalu dimakan.”
Selain itu bukti terbesar yang menunjukkan ketakwaan Abu Bakar sebagaimana yang terungkap dalam kitab “Shahihaini” bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki seorang budak, dimana pada suatu hari budaknya itu datang kepada beliau sambil membawa makanan. Karena beliau merasa lapar, maka beliau memakannya sebelum menanyakan dari mana makanan itu. Setelah selesai, maka beliau bertanya kepada budaknya, seraya berkata, “Dari mana kamu mendapatkan makanan ini?” lalu dia menjawab, “Pada masa jahiliyah aku bertemu dengan suatu kaum, lalu aku memakaikan azimat (mantera) kepada mereka, dan mereka menjanjikan sesuatu kepadaku. Ketika aku bertemu dengan mereka, maka aku menagihnya dan mereka memberiku sesuatu.” Kemudian Abu Bakar berkata, “Ach, hampir saja dirimu mencelakakanku.” Selanjutnya beliau memasukkan tangannya ke dalam mulutnya supaya beliau dapat memuntahkannya, tetapi karena makanan itu tidak keluar semuanya, maka beliau minum air dan memuntahkannya sehingga semua makanan dapat dikeluarkan semuanya. Demikianlah ketakwaan yang ditunjukkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Pembahasan seputar ketakwaan Abu Bakar ini akan kami tutup dengan kesaksian Ali bin Abu Thalib dimana Abu Sarihah yakni Hudzaifah bin Usaid berkata, “Aku mendengar Ali berkata, “Ingatlah, sesungguhnya Abu Bakar itu orang yang bersih hatinya.”

Kredibilitas Keilmuannya
Tidak ada seorang ulama pun yang meragukan kredibilitas keilmuan Abu Bakar Ash-Shiddiq, sehingga dia digolongkan sebagai sahabat Rasulullah yang paling alim. Bagaimana tidak, sementara dia tidak pernah berpisah dari Rasulullah semenjak beliau diangkat oleh Allah sebagai rasul sampai Allah memanggil beliau ke haribaan-Nya (wafat). Di bawah ini akan kami kemukakan beberapa contoh yang menggambarkan sisi keilmuan Abu Bakar Ash-Shiddiq.
1. Para perawi telah meriwayatkan bahwa Abu Bakar-Ash-Shiddiq adalah orang yang pertama hafal Al Qur’an. Sebagai buktinya bahwa Rasulullah telah menunjuknya sebagai pengganti beliau dalam mengimami shalat, dan hal itu terjadi bukan hanya sekali. Dimana Rasulullah bersabda, “Orang yang harus mengimami (shalat) suatu kaum hendaknya orang yang paling fasih dalam membaca kitab Allah (Al Qur’an).”
2. Menjelang akhir hayatnya Rasulullah berpidato, seraya bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memberikan pilihan kepada seorang hamba antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya, lalu hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi-Nya.” Mendengar hal itu Abu Bakar Ash-Shiddiq menangis, sehingga kami merasa heran. Ketika ditanya, maka dia menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah telah mengabarkan tentang seorang hamba yang disuruh memilih, dimana hamba yang disuruh memilih itu tiada lain adalah Rasulullah. Bertitik tolak dari keterangan tersebut, maka jelaslah bahwa Abu Bakar merupakan orang yang paling pintar di antara kita.
3. Seseorang yang diminta fatwanya di hadapan Rasulullah menunjukkan bahwa orang tersebut dikatagorikan sebagai orang yang paling pintar dari kalangan umat ini setelah Rasulullah, dan Abu Bakar termasuk orang tersebut. Ibnu Umar ditanya tentang siapa saja orang yang diminta fatwanya di hadapan Rasulullah, maka dia menjawab, "Abu Bakar dan Umar, karena tidak ada orang yang lebih pintar selain keduanya.” Bukhari telah meriwayatkan sebuah hadits kepada kita yang di dalamnya menjelaskan fatwa Abu Bakar yang disampaikan di hadapan Rasulullah, dan beliau menetapkan dan membenarkannya. Bukhari berkata, “Telah diriwayatkan dari Abu Qatadah, dia berkata, “Pada waktu perang Hunain kami pergi bersama Rasulullah dan ketika kami sampai maka kami menyaksikan pasukan besar kaum muslimin, lalu aku melihat seseorang dari kalangan musyrikin yang mengalahkan seseorang dari kalangan kaum muslimin. Kemudian aku menghampirinya seraya aku berjalan berputar mengelilinginya sehingga aku berada tepat di belakangnya, lalu aku mengayunkan pedang ke arah urat lehernya. Kemudian dia merubah posisinya sehingga menghadap ke arahku, lalu dia menyerangku, tetapi aku mencium bau kematian dan akhirnya diapun mati tersungkur. Setelah itu aku pergi dan bertemu dengan Umar bin Khatab, seraya berkata, “Bagaimana keadaan orang-orang?” lalu dia menjawab, “Urusan Allah.” Kemudian orang-orang kembali berkumpul, sementara Nabi duduk, seraya bersabda, “Barang siapa yang berhasil membunuh dan dapat membuktikannya, maka baginya berhak mendapatkan harta rampasan.” Kemudian aku berdiri, seraya berkata, “Siapa yang akan bersaksi untukku?” lalu aku duduk kembali. Kemudian Nabi mengulangi sabdanya, “Barang siapa yang berhasil membunuh dan dapat membuktikannya, maka baginya berhak mendapatkan harta rampasan.” Kemudian aku berdiri, seraya berkata, “Siapa yang akan bersaksi untukku?” lalu aku duduk kembali. Kemudian Nabi mengulangi sabdanya yang sama untuk yang ketiga kalinya. Kemudian seseorang berkata, “Benar, Ya Rasulullah, dan harta rampasannya ada padaku.” Setelah itu dia menyerahkan harta rampasan itu kepadaku. Maka Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Demi Allah, tidak bisa begitu, karena tidak bisa seorang singa Allah mengukuhkan pengakuan seorang singa Allah lainnya, tetapi siapa saja yang berperang karena Allah dan Rasul-Nya, maka engkau berhak memberinya harta rampasan. Kemudian Rasulullah bersabda, “Kamu benar” Setelah itu beliau memberikan harta rampasan itu kepada Abu Qatadah.
Abu Qatadah berkata, “Kemudian Rasulullah menyerahkan sebuah perisai yang kemudian aku jual dan hasil penjualannya aku belikan sebuah kebun kurma yang terletak di perkampungan Bani Salmah sebagai harta yang pertama kali aku peroleh dari hasil peperangan dalam Islam.
4. Bukhari telah meriwayatkan dari Muhammad bin jabir bin Muth’im dari bapaknya, dia berkata, “Seorang wanita telah datang kepada Rasulullah, lalu beliau menyuruhnya untuk datang lagi kepada beliau pada kesempatan yang lain. Maka dia berkata, “Bagaimana menurut pendapatmu seandainya aku datang, dan aku tidak menemukanmu?” Ayah Jabir berkata, “Seakan-akan wanita itu akan mati.” Kemudian Rasulullah berkata, “Jika kamu tidak menemukan aku, maka datanglah kamu kepada Abu Bakar.” Hadits ini kalaupun menunjukkan sisi kekhilafahan, kemuliaan dan kejujuran Abu Bakar, tetapi tidak dipungkiri bahwa hadist tersebut juga menunjukkan sisi Keilmuan Abu Bakar. Rasulullah telah menyerahkan urusan yang berhubungan dengan dirinya kepada Abu Bakar dan menjadikannya sebagai wakil beliau dalam menjawab segala pertanyaan yang akan diajukan oleh wanita tadi, karena dia dianggap sangat dekat dari segi keilmuannya dengan beliau.
Pembahasan seputar keilmuan Abu Bakar Ash-Shiddiq ini akan kami tutup dengan kesaksian yang diberikan oleh Umar yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam pembahasan kisah kekhilafahan Abu Bakar. Pada waktu itu aku (Umar) mengetahui sebagian tanda kemarahan yang ditunjukkan olehnya (Abu bakar), tetapi beliau lebih sabar dariku dalam menyikapinya.
Kemudian Abu Bakar berkata, “Bersabarlah, dan jangan tergesa-gesa, karena aku merasa benci untuk memarahinya.” Demi Allah, beliau tidak pernah meninggalkan ucapan yang mengagumkanku dalam meluruskanku kecuali beliau mengatakannya secara spontanitas dan panjang lebar sehingga aku terdiam. Kemudian beliau berkata, “jika kamu diingatkan suatu kebaikan, maka kamulah pemiliknya (harus menerimanya).”
Pada waktu itu tidak pada seorang Arab pun yang mengetahui urusan ini kecuali kalangan Quraisy yang menjadi kelas menengah masyarakat Arab dari segi keturunannya, dan aku menyetujui bagi kalian salah satu di antara dua orang ini yang mana saja kamu inginkan.” Yakni Umar dan Abu Ubaidah bin Jarrah.
Kesabarannya
Sabar termasuk perilaku dan akhlak yang sangat dicintai oleh Allah, dan sabar merupakan salah satu sifat yang menunjukkan kesempurnaan seseorang. Allah telah menyifati dan menyanjung Nabi-Nya Ibrahim karena kesabarannya. Sebagaimana hal ini terungkap dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (Qs. At-Taubah: 114) Demikian juga Allah telah menyifati Ismail dengan sifat tersebut, sebagaimana tertera dalam firman-Nya, “Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (Qs. Ash-Shaffaat: 101). Abu Bakar termasuk orang yang memiliki watak penyabar, disamping dia juga sebagai orang yang kaya dengan ilmu pengetahuan. Kesabaran Abu Bakar nampak sekali pada hadits berikut: Bukari telah meriwayatkan hadits ini dalam bab “Beberapa keutamaan Abu Bakar dari Abu Darda, dia berkata, “Pada suatu hari aku duduk bersama Rasulullah, lalu Abu Bakar datang sambil mengangkat ujung baju (gamis)-nya sehingga terlihat kedua lututnya. Kemudian Rasulullah bersabda, “Temanmu itu sungguh sangat mulia (dermawan).” Setibanya di hadapan Rasulullah, seraya dia mengucapkan salam, lalu berkata, “Sesungguhnya antara aku dan Ibnu Khathab (Umar) telah terjadi sesuatu, dan aku cepat-cepat meminta maaf kepadanya dan menyesalinya, tetapi dia menolaknva dan tidak mau memaafkanku. Karena itulah maka aku datang menghadapmu, lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Bakar, sungguh Allah telah memaafkanmu” dan beliau mengucapkan sebanyak tiga kali. Setelah itu Umar merasa menyesal, kemudian dia datang ke rumah Abu Bakar, seraya berkata, “Apakah ada Abu Bakar?” mereka (keluarga Abu Bakar) menjawab, “Tidak ada.” Kemudian dia datang ke rumah Rasulullah, dan ketika itu muka beliau berubah karena marah sehingga Abu Bakar tertunduk, seraya keduanya menatap kedua lutut Umar. Kemudian Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, Demi Allah aku telah berbuat zhalim (aniaya)” lalu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepadamu, tetapi kalian mengatakan bahwa aku telah berdusta.” Selanjutnya beliau bersabda, “Abu Bakarlah yang waktu itu membenarkanku dan menolongku dengah jiwa dan hartanya, maka apakah kalian akan meninggalkan seorang yang telah menemaniku ?” Beliau mengucapkannya sebanyak dua kali.
Dari hadits tersebut di atas nampak sekali kesabaran Abu Bakar, dimana ada tiga point yang perlu digaris bawahi, yaitu:
1. Penyesalannya atas perbuatan yang dilakukannya.
2. Permintaan maafnya kepada Umar atas perbuatan yang telah dilakukannya.
3. Sumpahnya yang mengakui kezhaliman yang telah diperbuatnya.
Penyesalan adalah pengakuan atas kezhaliman (kesalahan) dengan cara meredam kemarahan dan meminta maaf dari orang yang dizhaliminya. Inilah sikap sabar yang diperlihatkan oleh Abu Bakar.

Keberaniannya
Keberanian ada dua, yaitu keberanian (keteguhan) hati dan akal pikiran. Yang dimaksud dengan keberanian akal pikiran adalah keberanian untuk menyatakan dan menjelaskan kebenaran dan menghadapi para penentangnya dengan menjelaskan kekeliruan dan kesalahan pendapat dan pikiran yang dikemukakan oleh mereka serta menyadarkan kembali akal pikiran mereka. Di bawah ini akan kami kemukakan dua hadits yang menjelaskan puncak keberanian akal pikiran yang diperlihatkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Adapun kedua hadits tersebut adalah sebagai berikut.
Ibnu ‘Asakir telah meriwayatkan dari Ali bahwa ketika Abu Bakar masuk Islam, maka beliau menyatakan keislamannya dan berdoa kepada Allah dan Rasul-Nya. Demikian juga telah diriwayatkan dari Aisyah, seraya dia berkata,” Ketika para sahabat Nabi dikumpulkan, dimana jumlah mereka mencapai 88 (delapan puluh delapan) orang, maka Abu Bakar mendesak Rasulullah untuk menampakkan dakwahnya secara terang-terangan. Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Bakar, kelompok kita ini masih kecil.” Akan tetapi Abu Bakar terus-menerus mendesaknya sehingga akhirnya Rasulullah menampakkan dakwahnya secara terang-terangan dan menyebarkan kaum muslimin untuk membangun masjid dimana setiap sepuluh orang dipimpin oleh satu orang. kemudian Abu Bakar berdiri dihadapan orang – orang seraya menyampaikan pidatonya, sehingga dialah orang yang pertama berpidato yang menyeru manusia kepada jalam Alloh dan Rosulnya.

Wafatnya
Abu Bakar wafat sekitar waktu magrib dan Isya, dan istri beliu yang bernama Asma binti Umais memandikannya.kemudian Umar mensholatinya dimana jenazah beliau diletakan antara kuburan dan mimbar Rosululloh.kemudian kedalam kuburannya turun putra beliau abdurrohman, Utsman dan Tholhah bin Ubaidilah.Beliau dimakamkan disamping makam Rosululloh, sesuai wasiatnya.Abu bakar wafat pada malam selasa bulan jumadil akhir th 13 H. pada usia 63 tahun. Semuga Alloh meridoinya dan beliupun ridho kepadaNya.
Referensi::
Abu bakar Al jazairi , Ilmu dan Ulama , pustaka azzam, cet 1/ 2001 hal 163
Al khulafa Ar Rosyidun, Adul wahab An Najar, dar Al fikr, hal 34
Syamsudin Muhammad Bin Ahmad Bin Utsman Ad Dzahabi, Siyarul A' Lam. Annubala, Dar Al Fikr, juz 2, cet 1/ 1997.
Dr. Muhammad Said Ramdhan Al Buty, Fiqhus Siroh, .Robbani Pres, Jakarta /1999
Sofiyur Rohman Al mubarok fury, Ar Rokhikul maktum, Dar Al fikr, cet 1/2003