Menuntut Ilmu

Seandainya tanpa ilmu, maka manusia itu ibarat binatang

Lebih Dekat Dengan Qur'an

Tidaklah sekelompok orang berkumpul untuk mempelajari al-Quran, melainkan akan turun kepada mereka berkah dari Allah.

Jangan Lupa Qiyamul Lail

Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.

Sholat berjamaah

mari semangat sholat lima waktu di masjid.

Halaqoh Quran

Hidup Makmur, Mulia dan Bahagia bersama Al Quran.

Kamis, 18 November 2010

Ketika dua kekuatan hati bersatu dalam haq

Hati memiliki dua kekuatan; yaitu kekuataan ilmu sehingga mampu untuk membedakan sesuatu dan kekuatan iradah yang menghasilkan rasa cinta terhadap yang ia inginkan tersebut.......
Kesempurnaan dan keshalihan hati akan bisa dicapai ketika dua kekuatan ini digunakan dalam hal yang bermanfaat. Dan dalam hal itulah kebahagiaan dan kesempurnaan hati akan bisa diraih.
Kesempurnaan hati adalah dengan menggunakan kekuatan ilmu yang ada didalamnya untuk mencari tahu dan mengenal kebenaran sehingga mampu membedakannya dengan kebatilan.
Disamping itu, kekuatan iradah dan rasa cinta yang ada didalamnya juga digunakan untuk menggali kebenaran sehingga kecintaan kepada kebenaran tersebut semakin menguat dan lebih mengutamakannya atas kebatilan.
Barangsiapa yang tidak mengenal dan mengetahui kebenaran maka niscaya akan menjadi orang yang tersesat (Dhool), dan barangsiapa yang mengenal kebenaran tapi ia lebih mengutamakan kebatilan daripadanya maka niscaya ia akan mendapat murka (maghdub 'alaih)
Hal ini sebagaimana yang Allah swt perintahkan dalam shalat kita, yakni untuk selalu memohon dan meminta agar Dia menunjuki jalannya orang-orang yang telah Dia beri nikmat dan bukan jalannya orang-orang yang dimurkai ataupun orang-orang yang sesat.
Dengan demikian kaum nashrani dikhususkan sebagai kaum yang tersesat karena mereka adalah umat yang jahil lagi bahlul. Dan kaum yahudi dikhususkan sebagai kaum yang dimurkai karena mereka adalah umat pembangkang ('inad). Sedangkan umat ini adalah umat yang dikaruniai nikmat oleh Allah.
Syufyan bin 'uyainah berkata :
مَنْ فَسَدَ مِنْ عُبَّادِنَا فَفِيْهِ شَبَهٌ مِنَ النَّصَارَى، وَمَنْ فَسَدَ مِنْ عُلَمَائِنَا فَفِيْهِ شَبَهٌ مِنَ الْيَهُوْدِ
"Barangsiapa yang rusak dari kalangan ahli ibadah kita, maka ia menyerupai kaum nashrani. Dan barangsiapa yang rusak dari kalangan ulama' kita maka ia menyerupai kaum yahudi"
Hal itu disebabkan karena kaum nashrani beribadah tanpa disertai dengan ilmu. Dan kaum yahudi mengetahui dan mengenal yang haq tapi mereka berpaling dari kebenaran tersebut.
Dan ini sangat sesuai sekali dengan alQuran, sebab Allah telah menyebutkan tentang hal itu di berbagai ayat yang cukup banyak yang mengabarkan bahwa "Orang-orang yang akan mendapatkan kebahagiaan hidup adalah mereka yang mengenali kebenaran dan mengikutinya, dan orang-orang yang mendapatkan kecelakaan adalah mereka yang tidak mengenal kebenaran dan tersesat ataupun mereka yang mengenalinya tapi justru ia berpaling dan menyelisihinya serta mengikuti kebatilan."
Allah berfirman : "Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (Qs. Al Ashr : 1-3)
Wal akhir fastabiqul khairat mari kita selalu tingkatkan amal ibadah kita, dan kita mohon kepada Allah agar dikumpulkan bersama orang-orang yang telah Ia beri nikmat yakni para nabi, shiddiqin, syuhada', dan sholihin…!!! Amien… wallahu a'lam bish showab.
(dinukil dari kitab Ighotsatul Lahfan, hal 21
Cet I tahun 2003/1424 Daar al Aqidah)

Minggu, 14 November 2010

Bahasa Arab Sumbang 40 Persen Bahasa Dunia

Di bawah pengaruh dan perkembangan Islam, bahasa Arab menyumbang 40-60 persen kosakata untuk berbagai bahasa di dunia hingga berpengaruh pada tata bahasa, ilmu nahu, dan kesusastraan......
Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Departemen Agama, Prof Dr Machasin, di Medan, Selasa (13/10), mengatakan, bahasa Arab mempunyai peranan yang sangat besar dalam kehidupan Muslim di berbagai belahan dunia.

"Bahasa Arab mempengaruhi bahasa Persia, Turki, Urdu, Melayu, Hausa, dan Sawaili. Artinya di bawah pengaruh Islam, kosakata bahasa Arab banyak dipakai dalam berbagai bahasa di dunia," katanya pada seminar internasional "Bahasa Arab Dalam Perpektif Sosial Budaya".

Ia mengatakan, dewasa ini bahasa Arab merupakan bahasa daerah sekitar 150 juta orang di Asia Barat dan Afrika Utara yang merupakan 22 negara yang menjadi anggota liga negara-negara Arab.

Bahasa Arab juga merupakan bahasa agama untuk lebih dari satu miliar umat Muslim di seluruh dunia, yang diucapkan dalam ibadah sehari-hari.

Bahasa ini juga merupakan bahasa hukum Islam yang mendominasi kehidupan semua Muslim dan digunakan sebagai bahasa kebudayaan Islam yang diajarkan di ribuan sekolah di luar dunia Arab.

"Dari Senegal sampai Filipina, bahasa Arab dipakai sebagai bahasa pengajaran dan kesusastraan, pemikiran di bidang sejarah, etika hukum dan fiqih serta kajian kitab," katanya.

Didukung dengan beberapa doktrin ajaran dalam Islam, bahasa Arab terus memengaruhi masyarakat Muslim di berbagai tempat. Misalnya, doktrin bahwa Al Quran harus ditulis dan dibaca dalam bahasa aslinya, yakni bahasa Arab.

Hal ini berbeda dengan kitab suci lain yang justru harus diterjemahkan ke berbagai bahasa tanpa menyertakan teks aslinya. Doktrin pendukung lainnya adalah berbagai ucapan ritual ibadah yang hanya dianggap sah jika dilakukan dalam bahasa Arab.

Doktrin-doktrin seperti ini telah memacu motivasi masyarakat Muslim untuk mempelajari dan menguasai bahasa Arab sejak dini agar kelak menjadi Muslim yang baik.

Fakta Bahasa Arab Mendominasi Dunia Dikomentari Sinis

Kami memperoleh berita dari situs online Kompas, berita aslinya dapat dilihat disini kompas-online. Fakta terlihat bahwa di Indonesia sendiri yang berpenduduk muslim terbesar di dunia masih bisa dilecehkan oleh para kometator news tersebut.

Sinisme nampak jelas terlihat manakala berita yang mengangkat kemajuan peradaban Islam akan dikomentari dengan bahasa yang cenderung 'kotor'.



coba lihat komentator tak bertanggungjawab ini bisa lolos admin kompas.com :

cina murtad @ Rabu, 14 Oktober 2009 | 16:13 WIB
"bisa bilang 40% itu buktinya apa yah? kalau cuma kosakata sih bahasa latin jauh lebih banyak, bisa sampai 80%. tapi kalau dibilang 40% bhs arab dan sisanya bukan, berarti sisanya itu 60% bahasa lain? itu sih ngawur abis. yang paling banyak berpengaruh itu budaya semitik, jauh sebelum arab. bahasa yang sekarang masih paling banyak dipakai bahasa inggris. gak mungkin bahasa arab sumbang 40% trus inggris lebih dr 40%, sisanya bahasa lain di dunia? overrated tuh."

Inilah yang terjadi jika Islam tak mampu diadopsi oleh mayoritas penduduk Indonesia. Islam dilabeli dengan image yang konservatif dan kemudian dibenturkan dengan budaya barat sehingga begitu 'deras' resistensi penduduk yang terlanjur sekuler karena budaya dan pengkondisian oleh media yang didominasi oleh arus kaplitalis liberal. Hal ini dianggap wajar karena memang telah terjadi bertahun-tahun dan ternyata 60% penduduk kita adalah remaja usia belasan hingga mid-twenty yang cenderung western minded.

Kini saatnya lembaga islam maupun ormas-ormas islam lebih pro-aktif mengawal jalannya media cetak, online maupun televisi dan melakukan fungsi check and balances atas serangan arus sekuler yang sporadis. (rojul/voa-islam.com)

10 Tipe Umat Muslim Saat Ini, Lalu Dimanakah Anda??

Dengan melihat fakta yang terjadi pada saat ini, dengan jelas kita dapat lihat berbagai tipe kaum muslim yang berbeda-beda, beberapa memang seorang muslim dan beberapa mengaku dirinya sebagai muslim. Kami telah sepakat untuk mengelompokkan umat tersebut ke dalam 10 golongan utama.......
agar umat Muhammad saw. berhati-hati terhadap golongan tersebut dan senantiasa menjaga jarak dengan mereka. Di antara 10 golongan tersebut adalah mereka yang melakukan korupsi, kekufuran dan nifaq (kemunafikan).

1. Az-Zalamiyun
(orang yang tidak perduli/orang yang mengatakan “aku tidak peduli”)
Golongan ini hidup dalam kegelapan dan tidak peduli akan urusan kaum muslimin. Secara politik dan sosial mereka tidak peduli pada apa yang ada disekitarnya dan hidup dalam kehidupannya sendiri serta menjauhkan diri dari masyarakat. Mereka tidak peduli akan kepentingan kaum muslimin di Iraq, Palestina, Chechnya, para mujahidin serta ulama; Mereka hanya peduli pada “aku, diriku sendiri dan aku.”Sebagai seorang muslim tidak seharusnya berkata “Aku tidak peduli”, karena kita harus peduli akan kepentingan kaum muslim dan para mujahidin, peduli akan kehidupan sosial dan penegakan negara Islam. Rosululloh SAW bersabda: “Tidak beriman seseorang sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”. Oleh karena itu seorang muslim harus peduli pada saudaranya sesama muslim baik laki-laki maupun perempuan, bukan hanya masyarakat disekitarnya tetapi juga diseluruh dunia.Ada banyak golongan Zalamiyun diantara umat pada saat ini. Mereka tidak peduli akan pemimpin-pemimpin yang murtad dan berkata bahwa ‘hal tersebut tidak ada urusannya denganku’: Allah SWT. akan mencatat amal perbuatanku bukan amal perbuatan orang lain. Orang-orang seperti ini sungguh tidak memiliki pengetahuan dan tidak sesuai jika dia disebut sebagai orang beriman.

2. Az-Zanaadiqah (orang-orang yang menyebarkan kekufuran, syirik dan bid’ah atas nama Islam)
Seperti yang telah disebutkan dan dijelaskan sebelumnya bahwa golongan Zanaadiqah ini merupakan bentuk kejahatan dari segala kejahatan. Mereka yang termasuk kedalam golongan zindiq ini, misalnya: • Salman Rushdie orang ini adalah murtad Zindiq karena ia melawan Islam dan menggunakan bukti-bukti dari Al-Qur`an dan As-Sunnah.• Golongan Qadiyaanis (Ahmadiyah) Golongan ini adalah kafir zindiq (tidak murtad) sepetinya mereka muslim atau mengaku dirinya seorang muslim. Mereka percaya Muhammad SAW sebagai utusan Allah tapi bukan utusan/nabi yang terakhir. Mereka menamakan dan mempunyai tempat suci (masjid) dan tempat ibadah sendiri. Mereka kafir karena mereka tidak mengakui Muhammad SAW sebagai nabi terakhir, menyebarkan bid’ah, syirik dan kekufuran atas nama Islam.• Islam Nasionalis (nation of Islam) Mereka juga kafir zindiq karena mereka mengumbar kekufuran mereka atas nama Islam. Mereka membenarkan ras mereka dengan agama dan mempunyai kitab sendiri yang mereka sebut “Qur’an”.Kebanyakan kaum muslim melakukan Zandaqah baik sengaja maupun tidak sengaja. Mereka menghalalkan yang haram dan membenarkan pemikiran serta hawa nafsunya dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur`an dan Al-Hadist sebagai dalilnya.

3. Ahlul Ahwaa wal bida’i wat tasawwuf (orang yang memperturutkan hawa nafsu, pelaku bid’ah dan sufisme/percaya takhayul)
Golongan ini lebih mencintai thoghut yakni memperturutkan hawa nafsu dan melakukan bid’ah; Mereka adalah yang memuja orang tua mereka dan para nabi dan sebagainya melebihi dari yang diperbolehkan oleh agama. Mereka telah terlena dan terjerumus dalam godaan dunia. Bid’ah dan memilih menyembah pemikirannya dari pada mengikuti aturan Allah SWT.Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Terangkanlah bagi Ku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”.(QS. 25:43)dan…


”Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan nabi Muhammad SAW) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”.(QS. 5:77)



Seperti syaiton, mereka adalah orang-orang yang tidak mematuhi perintah-perintah Allah SWT.dan senantiasa mengajak manusia ke jalan yang sesat dan menjerumuskan mereka ke dalam api neraka.

4. Ahlul Fisq Wal Mujun (golongan yang berlaku curang dan berbuat kejahatan)
Golongan ini merupakan kelompok yang paling banyak dalam masyarakat di sistem kufur. Mereka bahkan mengatakan bahwa mereka tidak melaksanakan perintah agama. Mereka sering pergi ke klub-klub malam, diskotik, bioskop bahkan ketika kuliah di perguruan tinggi mereka melakukan pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan. Mereka sering mendengarkan musik, berpacaran, minum-minuman keras, memakai obat-obatan terlarang.Contoh tipe kaum muslim seperti ini umumnya adalah mahasiswa di kampus, pemuda-pemuda Islam.

5. As-Salafiyyah ut-Talafiyyah (Penipu, orang yang tidak menghargai dan menjelek-jelekkan kaum salafis)
Mereka biasanya mempelajari Al-Qur`an, Al-Hadist dan potensi kehidupan manusia (fitroh). Mereka juga mengikuti usul/kaidah dari Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, menyatakan dirinya sebagai pelindung agama dan ahlul haq, tapi semuanya dengan syarat mereka tidak mau bergabung dengan jama’ah atau gerakan apapun untuk berjuang melawan kekufuran, syirik, dan thoghut. Mereka memilih untuk mengikuti thariqoh yang berbeda. Bagaimanapun mereka cukup senang hanya dengan menyebut nama dan sifat Allah SWT. Mereka juga termasuk dalam kategori Zanaadiwah, Ahlul irjaa’ (memisahkan iman dan perbuatan) dan Az Zalamiyyun.

6. Praktisi Muslim Sekuler/orang-orang Muslim yang sekuler/orang-orang yang duduk dalam pemerintahan sekuler Mereka ahli ibadah wal iltizam (orang suka beribadah dan melaksanakan Islam).
Pada umumnya mereka melaksanakan dan mempraktikkan tentang makanan halal, sholat, melaksanakan haji, puasa di bulan Ramadhan dan mengikuti seluruh hukum syar’i. Meskipun demikian, mereka cendeung berdiam diri dan tidak berbicara bebas (al-haq) karena takut dicap sebagai teroris. Meskipun demikian mereka senantiasa mendukung perjuangan mujahidin secara rahasia dan sungguh-sungguh mendukung aktivis-aktivis muslim secara finansial.Mereka tidak punya walaa’ dan baraa’ dalam beberapa hal misalnya mereka mengatakan bahwa tidak semua orang kafir itu jahat dan memisahkan diri dari umat muslim dunia. Mereka berada di antara yang haq dan bathil. Mungkin mereka adalah kriteria muslim yang terbaik di antara kesepuluh kriteria muslim yang menyimpang pada saat ini.

7. Ahlul Irjaa’ (orang yang memisahkan agama dengan perbuatan)
Kebanyakan kaum muslim pada saat ini termasuk dalam kategori ini. Mereka memisahkan iman dengan perbuatan. Mereka tidak menyebut penguasa atau pembuat undang-undang negeri muslim itu murtad seperti dengan mengatakan bahwa apa yang mereka kerjakan adalah kufur, tapi kita tidak bisa menyebut mereka kaum kafir. Mereka senantiasa menyebarkan ajaran-ajaran Murji’ah diantara umat Islam. Mereka adalah orang-orang yang melaksanakan kekufuran dan agak munafik dalam beberapa hal seperti misalnya mereka tidak meyatakan pada apa yang mereka percaya atau pada bukti-bukti yang kuat. Mereka mengatakan “ itu adalah pendapatmu sendiri”,. Dan “ kami ingin diakui.”

8. Golongan bertangan besi
Golongan ini mencari kekuasaan atau pelaku kudeta dan tidak segan-segan membunuh siapa saja yang tidak sesuai dengan cara-caranya. Jika seseorang tidak setuju dengan mereka, mereka menyebutnya sebagai orang kafir. Mereka senantiasa bekerja sama dan berkomplot dengan kaum sosialis yang kufur dan orang-orang Yahudi serta mengambil hukum-hukumnya.

9. Al Tajammu’aat Ul ‘Ilmaniyyah (paham kebangsaan dan patriotisme)
Kebanyakan kaum muslim jatuh dalam kategori ini, khususnya dari Palestina dan Benua asia. Mereka mencintai negerinya dan menyatakan bahwa itu tercipta untuk Islam, ketika itu juga tercipta untuk kekufuran. Nasionalisme adalah bencana dan penyabab utama perpecahan umat. Inilah bentuk dari thoghut dan seorang muslim harus menghindarinya dan berpegang pada iman dan Islam.

10. Ilmaanis (kaum sekuler)
Kaum sekuler tidak pernah melakukan perintah agama. Mereka senantiasa memisahkan Islam dengan urusan kehidupannya. Mereka tidak mau terhadap hukum-hukum syari’ah yang diterapkan. Mereka adalah golongan yang menentang yang haq dan berdiri di atas kesyirikan, kekufuran, nifaq, kemurtadan, zandaqoh, kemungkaran, bid’ah dan kebathilan, dsb. Mereka pada umumnya murtad karena tidak ada sekulerisme di dalam Islam dan sekulerisme itu adalah agama itu sendiri.

KESIMPULAN

Sangat penting bagi seorang muslim untuk berhati-hati dan menjauhi kelompok-kelompok ‘menyimpang’ tersebut. Bagaimana pun kita harus ingat bahwa mereka masih seorang muslim (ahlul qiblat) dan wajib untuk di-dakwahi serta ber-amar ma’ruf nahi munkar kepadanya. Untuk memastikan bahwa kita selalu mengikuti jalan yang benar, kita harus meneladani para sahabat sebagai standar pemecahan semua masalah yang distandarkan agama Islam. Hanya dengan pelaksanaan hukum syari’ah yaitu Khilafah (negara Islam) yang dapat mempersatukan umat dan mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya Iman. Wallahu’alam bis showab! sumber :http://gurobabersatu.blogspot.com/l

Minggu, 07 November 2010

Urgensi Kalimat Tauhid dan Syarat-syaratnya

Dari Ubadah bin Shamith radhiyallaahu 'anhu berkta, Rasululllah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,........ مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنْ الْعَمَلِ

“Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang hak disembah) selain Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah Hamba dan Rasul-Nya; dan (bersyahadat) bahwa Isa adalah hamba Allah, rasul-Nya dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam serta ruh daripada-Nya; dan (bersaksi pula bahwa) surga adalah benar adanya dan nerakapun benar adanya; maka Allah pasti memasukkannya kedalam surga betapapun amal yang telah diperbuatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)



Di dalam hadits ini terdapat beberapa point penting, di antaranya sebagai berikut:

Pertama, sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ini adalah kalimat yang agung yang membedakan antara iman dan kufur. Dia memiliki petunjuk yang agung dan makna yang besar. Menurut para ulama makna من شهد أن لا إله إلا الله : Siapa yang mengucapkan kalimat ini dengan mengetahui maknanya, mengamalkan tuntutannya yang dzahir maupun yang batin. Hal ini seperti yang diterangkan oleh firman Allah ta’ala:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak disembah) melainkan Allah.” (QS. Muhammad: 19)

Dan firman-Nya 'Azza wa Jalla,

إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“… akan tetapi (orang yang dapat memberi syafaat ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya).” (QS. al-Zukhruf: 86)

Sedangkan mengucapkannya tanpa mengetahui maknanya dan tidak mengamalkan tuntutannya, maka hal itu tidaklah membawa manfaat baginya, berdasarkan ijma’.

Dan makna Laa Ilaaha Illallaah: Tidak ada yang diibadahi dengan benar kecuali satu tuhan saja, yaitu Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Hal ini sesuai dengan yang ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".” (QS. Al-Anbiya’: 25)

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’.” (QS. Al-Nakhl: 36)

Dari sini dapat dipahami, bahwa tidak ada tuhan yang diibadahi dengan benar kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Dia semata yang berhak mendapat peribadahan sebagaimana Dia semata yang telah menciptakan dan memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, mengadakan dan menghilangkan, memberikan kebaikan dan menimpakan keburukan, memuliakan dan menghinakan, menunjuki dan menyesatkan, dan bentuk-bentuk macan rububiyah lainnya. Tidak seorangpun yang berserikat dengan-Nya dalam mencipta makhluk-makhluk, dan tidak pula ada yang bersama-Nya dalam mengatur mereka. Dia semata yang memiliki al-asma’ al-husna (nama-nama yang mahaindah) dan sifat-sifat yang mahatinggi. Tidak seorangpun selain-Nya yang memiliki sifat seperti itu dan tidak seorang pun yang menyerupai dia dalam nama-nama dan sifat-sifat tersebut.

Bahwa tidak ada tuhan yang diibadahi dengan benar kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Dia semata yang berhak mendapat peribadahan sebagaimana Dia semata yang telah menciptakan dan memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, mengadakan dan menghilangkan, . . .

Begitu juga Dia sendirian yang berhak mendapat peribadahan, tidak ada yang boleh menjadi sekutu-Nya dalam hal itu. Allah Ta’ala berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Hajj: 62)

مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ () عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, Yang mengetahui semua yang ghaib dan semua yang nampak, maka Maha Tinggilah Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Mukminun: 91-92)

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al-Maaidah; 73)

“Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS: Ali Imran: 62)

“Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah." Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudaratan bagi diri mereka sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa".” (QS. Al-Ra’d: 16)

Dan ayat-ayat lain yang cukup banyak yang menunjukkan secara tersurat atau tersirat bahwa tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala Esa dalam rububiyah, mencipta, memberi rizki dan selainnya, juga Esa dalam Nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang Mahaindah dan sempurna, maka Allah Ta’ala Esa dalam ibadah, maka bagaimana pun jua tidak boleh ada ibadah yang ditujukan kepada selain-Nya.

Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala Esa dalam rububiyah, mencipta, memberi rizki dan selainnya, juga Esa dalam Nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang Mahaindah dan sempurna, maka Allah Ta’ala Esa dalam ibadah, . .

Kedua, bahwa seorang hamba tidak bisa melaksanakan hak dari kalimat syahadat ini kecuali dengan merealisasikan syarat-syaratnya, yaitu: ilmu, yakin, qabul, inqiyad, shidiq, ikhlash, dan cinta.

Maksudnya: orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat tidak akan mendapatkan manfaat di dunia dan akhirat dari kalimat ini hanya sebatas mengucapkannya. Tapi haruslah terpenuhi ketujuh syaratnya sebagai berikut:

1. Al-Ilmu. Maksudnya: Mengetahui maknanya, yakni dari masalah nafyun (peniadaan) dan itsbat (penetapan). Ilmu ini meniadakan kejahilan sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak disembah) melainkan Allah.” (QS. Muhammad: 19)

Imam Muslim dalam Shahihnya meriwayatkan dari Utsman radhiyallaahu 'anhu, dia berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapa yang meninggal sedangkan dia mengetahui bahwa tiada Illah (yang berhak disembah) kecuali Allah, pasti masuk surga.”

Dari sini dapat dipahami, orang yang mengucapkannya wajib mengetahui apa yang dimaksud dan ditunjukkannya. Sedangkan orang yang mengucapkannya namun jahil terhadap hakikat dan maknanya, maka pengucapannya itu tidaklah mendatangkan manfaat untuknya.

Sedangkan orang yang mengucapkannya namun jahil terhadap hakikat dan maknanya, maka pengucapannya itu tidaklah mendatangkan manfaat untuknya.

2. Al-Yaqin. Maksudnya: Orang yang mengucapkan kalimat syahadat ini harus yakin dengan makna yang dimau dengan keyakinan yang mantap yang menghilangkan keraguan. Allah 'Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 15)

Terdapat dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ لَا يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فَيُحْجَبَ عَنْ الْجَنَّةِ

“Aku bersaksi tiada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah dan sesungguhnya aku adalah Rasulullah, tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan keduanya tanpa ragu-ragu akan terhalang dari surga.” HR. Muslim)

Supaya orang yang mengucapkannya bisa masuk surga, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam menjadikan syarat agar dalam mengucapkannya tidak ragu terhadapnya dan hatinya meyakininya dengan penuh.

3. Al-Qabul. Maksudnya: Hati dan lisannya menerimanya. Ayat-ayat yang menunjukkan hal ini sangatlah banyak yang semuanya menunjukkan bahwa kalimat tauhid tersebut tidak mendatangkan manfaat kecuali bagi orang yang menerimanya untuk mengucapkannya. Dari sini Allah menceritakan tentang orang kafir terdahulu,

وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ () قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَى مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آَبَاءَكُمْ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ () فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi Peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka." (Rasul itu) berkata: "Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?" Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya." Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS. Al-Zukhruf: 23-25)

Kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallaah tidak mendatangkan manfaat kecuali bagi orang yang menerimanya untuk mengucapkannya.

4. Al-Inqiyad (tunduk dan patuh) terhadap tuntutannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan. . .” (QS. Al-Nisa’: 125)

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

“Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (QS. Luqman: 22)

Makna Yuslim Wahjahu: dia menyerahkan diri dan tunduk dengan banyak berbuat baik dan bertauhid. Sedangkan orang yang tidak menyerahkan diri dan tidak tunduk kepada Allah, maka dia tidak termasuk berpegang teguh dengan tali yang kuat (Laa Ilaaha Illallaah).

Sedangkan orang yang tidak menyerahkan diri dan tidak tunduk kepada Allah, maka dia tidak termasuk berpegang teguh dengan tali yang kuat (Laa Ilaaha Illallaah).

Dalam sebuah hadits, “Tidaklah beriman salah seorang kalian sehingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaranku).” (HR. Thabrani). Ini merupakan bentuk kesempurnaan inqiyad (ketundukan).

5. Al-Shidqu (jujur) yang meniadakan dusta. Yaitu mengucapkannya dengan jujur dari dalam hatinya. Hatinya sesuai dengan lisannya dan lisan sesuai dengan hatinya. Allah ta’ala berfirman dalam masalah tersebut,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ () وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3)

Allah menceritakan tentang kondisi orang-orang munafikin,

“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al-Baqarah: 8-10)

Dalam sebuah hadits shahih, dari Mu’adz bin jabal radhiyallaahu 'anhu, dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

“Tak seorang pun bersaksi Laa Ilaaha Illallaah dan Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya dengan kejujuran hati kecuali Allah mengharamkan neraka untuk menyentuhnya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Syarat untuk selamat dari neraka setelah mengucapkan kalimat ini haruslah mengucapkannya dengan jujur dari hatinya. Sebatas menggucapkan dengan lisan tidaklah memberikan manfaat tanpa kesesuaian hati.

Syarat untuk selamat dari neraka setelah mengucapkan kalimat ini haruslah mengucapkannya dengan jujur dari hatinya.

Sebatas menggucapkan dengan lisan tidaklah memberikan manfaat tanpa kesesuaian hati.

6. Ikhlas. Yaitu membersihkan amal shalih dengan niat dari berbagai noda syirik. Allah Ta’ala berfirman,

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“Ketahuilah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS. Al-Zumar: 3)

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Zumar: 2)

Dalam shahih Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

“Orang yang paling berbahagia mendapatkan syafaatku pada hari kiamat adalah dia yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah ikhlash dari hatinya atau dirinya.”

Dari 'Itban bin Malik radhiyallaahu 'anhu, dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka menyentuh orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah karena semata-mata mencari wajah Allah.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

7. Al-Mahabbah (cinta). Maksudnya mencintai kalimat ini dan apa saja yang ditunjukkannya, dituntutnya, dan orang-orang yang menggucapkannya, mengamalkan dan berpegang teguh dengannya, serta membenci semua hal yang bertentangan dengannya. Allah 'Azza wa Jalla berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. (Al Baqoroh: 165)

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya.” (QS. Al-Mujadilah: 22)

Dari Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga hal, apabila ketiganya ada pada diri seseorang maka ia akan bisa merasakan manisnya Iman; Hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, dia mencintai seseorang hanya karena Allah, dia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya dicampakkan ke dalam api neraka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Wallahu a'lam....

[PurWD/voa-islam.com]